Harga Minyak Tembus US$100, APBN dan Inflasi Indonesia Berpotensi Tertekan

minyak
Ilustrasi seorang pekerja tengah mengisi BBM ke mobil. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus level 100 dolar AS per barel berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Selain meningkatkan risiko inflasi, lonjakan harga minyak juga dapat memperbesar kebutuhan anggaran pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengatakan kenaikan harga minyak global akan menjadi tantangan bagi pemerintah, terutama dalam menjaga harga BBM bersubsidi agar tetap stabil.

Menurutnya, dampak tersebut semakin perlu diperhatikan apabila harga minyak dunia bertahan pada level tinggi. Meski kenaikan saat ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan berpotensi hanya berlangsung sementara, efeknya tetap dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi.

Baca Juga:Dua Tahun Menanti, GPS Bandung Akhirnya Wujudkan Mimpi Tampil di DBLTak Hanya Jago Basket, Kayleen Anfernee Wijaya Juga Pernah Bersinar di Panahan

“Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS- Israel vs (versus) Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi,” ucap Eko dikutip dari ANTARA, Senin (14/9).

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober dilaporkan menembus 100 dolar AS per barel pada Kamis (10/9). Harga tersebut sempat mencapai 100,88 dolar AS per barel, atau meningkat 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.

Level tersebut menjadi harga tertinggi kontrak berjangka WTI sejak 20 Mei.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena pemerintah telah menjamin harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan sepanjang tahun ini. Kebijakan tersebut membuat perubahan harga minyak global berpotensi meningkatkan kebutuhan kompensasi dan subsidi dalam APBN.

Eko menilai kondisi tersebut menjadi momentum untuk terus memperbaiki mekanisme penyaluran subsidi BBM agar lebih tepat sasaran. Dengan demikian, peningkatan harga minyak dunia tidak secara otomatis menimbulkan tekanan besar terhadap keuangan negara.“Beberapa Upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujarnya.

Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya berpotensi dirasakan melalui anggaran negara. Inflasi juga menjadi risiko yang perlu diantisipasi karena sebagian pelaku industri dan sektor distribusi logistik masih menggunakan BBM nonsubsidi.

0 Komentar