Harga Minyak Tembus US$100, APBN dan Inflasi Indonesia Berpotensi Tertekan

minyak
Ilustrasi seorang pekerja tengah mengisi BBM ke mobil. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

Ketika harga minyak mentah meningkat, harga BBM nonsubsidi berpotensi mengikuti pergerakan harga pasar. Kenaikan biaya energi tersebut kemudian dapat meningkatkan ongkos produksi dan distribusi berbagai barang.

Selain BBM, sejumlah bahan baku yang berasal dari minyak bumi juga berpotensi mengalami kenaikan harga. Salah satunya adalah produk berbahan plastik yang digunakan secara luas dalam kegiatan industri dan perdagangan.

Terkait inflasi, juga dinilai berisiko naik seiring industri dan sektor-sektor distribusi logistik sebagian besar menggunakan BBM non subsidi. Selain itu, bahan baku yang berasal dari minyak bumi turut berisiko kembali naik, seperti plastik. Terlebih lagi, lanjut Eko, dari sisi situasi alam juga sedang terjadi el-nino.

Baca Juga:Dua Tahun Menanti, GPS Bandung Akhirnya Wujudkan Mimpi Tampil di DBLTak Hanya Jago Basket, Kayleen Anfernee Wijaya Juga Pernah Bersinar di Panahan

“Soal potensi harga BBM, kalau non subsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” kata Eko.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pemerintah. Jika lonjakan harga berlangsung lebih lama, tekanan terhadap APBN, harga energi, biaya distribusi, hingga inflasi domestik berpotensi semakin besar.

0 Komentar