Aplikasi Iblis Teror dari Balik Layar, Dimas Anggara Tantang Penonton Lewat Horor Teknologi

Aplikasi Iblis Teror dari Balik Layar, Dimas Anggara Tantang Penonton Lewat Horor Teknologi
Aplikasi Iblis Teror dari Balik Layar, Dimas Anggara Tantang Penonton Lewat Horor Teknologi
0 Komentar

Menurut Dimas, kata tersebut sengaja dipilih dengan makna yang lebih netral. Pasalnya, sosok iblis dalam film tidak selalu digambarkan dalam bentuk tertentu, tetapi dapat hadir melalui berbagai kemungkinan.

“Semua itu kan bisa menjadi sosok iblis, kan bisa ke mana aja. Jadi bisa berupa gadget, bisa berupa manusia, bisa berupa kucing, bisa berupa apa pun itu. Jadi kita lebih menggunakan kata iblis untuk netral,” ujar Dimas.

Konsep tersebut sekaligus menjadi daya tarik tersendiri karena teror dalam film tidak hanya datang dari sesuatu yang dianggap asing atau jauh dari kehidupan manusia.

Baca Juga:Coucou Bidik Transaksi Rp1 Miliar di IIPE 2026, Animo Pengunjung Naik hingga 300 PersenHari Pelanggan Nasional 2026, Telkomsel Siapkan Beragam Kejutan untuk Pelanggan di Jabotabek dan Jabar

Sebaliknya, sesuatu yang akrab dan digunakan setiap hari justru dapat berubah menjadi sumber ketakutan.

Tantangan Baru Dimas di Kursi Sutradara

Bagi Dimas, berada di belakang kamera memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika dirinya berperan sebagai aktor.

Ia mengakui bahwa baik menjadi pemain maupun sutradara sama-sama memiliki beban dan tanggung jawab masing-masing. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin tertarik untuk memperluas karier di dunia penyutradaraan.

“Dua-duanya punya beban yang masing-masing. Jadi pemain enak, tapi bebannya juga tinggi. Jadi di belakang layar enak juga, tapi bebannya juga beda. Saya mau mencoba hal yang baru aja dan saya rasa jenjang karier ke depannya ya sutradara yang saya pilih,” katanya.

Dalam menggarap Aplikasi Iblis, Dimas juga menyebut dirinya memiliki pendekatan tersendiri terhadap film horor.

Menurutnya, drama tetap menjadi fondasi penting dalam sebuah film, termasuk ketika cerita tersebut berada dalam genre horor. Namun, horor membutuhkan treatment khusus agar atmosfer ketakutan dapat benar-benar dirasakan penonton.

Hal tersebut berkaitan dengan banyak aspek produksi, mulai dari pengambilan gambar, adegan, blocking, hingga permainan emosi para aktor.

Baca Juga:MSIG Life Bayarkan Klaim Rp545 Miliar di Semester I 2026, 55 Persen Klaim Meninggal Terjadi di Usia Produktif

Dimas pun tidak bekerja seorang diri dalam menentukan arah film. Ia mengaku banyak berdiskusi dengan kru selama proses produksi untuk mendapatkan masukan dari berbagai sudut pandang.

“Karena aku orangnya suka bertanya, jadi aku pasti ke semua kru pun aku tanyain dan aku minta masukan dari mereka semua. Jadi aku hanya menaungi kemauan mereka dan keinginan mereka, sisanya tinggal aku yang menentukan,” tutur Dimas.

0 Komentar