Menjawab pertanyaan mengenai alasan pemerintah masih memerlukan pembiayaan melalui penerbitan ORI ketika APBN mengalami defisit, Singgih menegaskan bahwa penerbitan ORI030 memang menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang telah disiapkan pemerintah.
Menurut dia, selama tingkat defisit masih berada dalam batas aman, skema pembiayaan tersebut tetap menjadi bagian dari kebijakan fiskal yang sehat.
“Defisit APBN kali ini 2,68 persen masih jauh di bawah level aman 3 persen. Dan salah satu pembiayaannya adalah dari ORI030 ini. Mengapa demikian? Tentu saja ini digunakan untuk membiayai pembangunan kita, APBN kita, terutama untuk program-program prioritas Presiden,” kata Singgih.
Baca Juga:Tagana di Tasikmalaya Masuk Sekolah, Tanamkan Budaya Siaga Bencana Sejak DiniEkspor Satu Pintu Diklaim Mampu Dongkrak Harga Komoditas dan Pendapatan Petani?
Ia menambahkan, pembiayaan melalui penerbitan Surat Berharga Negara merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan pembangunan, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam mengelola utang negara.
“Jadi pemerintah dukung penuh, sepenuhnya melalui pembiayaan ini. Sehingga jangan khawatir walaupun terlihat besar sekarang posisi utang pemerintah secara pusat secara keseluruhan. Namun demikian secara overall masih manageable karena tadi defisitnya masih cukup aman di bawah 3 persen,” tandasnya. (Mong)
