Meski demikian, proses pembersihan di lokasi Ciganitri diperkirakan tidak mudah. Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, medan yang curam membuat alat berat sulit menjangkau titik timbunan sampah.
Karena itu, sejumlah opsi tengah disiapkan, mulai dari mengangkut sebagian sampah, meratakan sisa timbunan, menutupnya dengan tanah, hingga melakukan penghijauan di lokasi tersebut.
“Ada kendala karena tingkat kemiringannya curam sehingga alat berat tidak bisa masuk. Ada opsi sebagian diangkut, sebagian diratakan, ditimbun tanah, kemudian ditanami pohon,” tuturnya.
Baca Juga:Tasik Hejo Gandeng Sekolah Alam Hayati, Pemkab Siapkan Gerakan Penghijauan Berbasis DesaTingkatkan Mutu Layanan, RSUD KHZ Musthafa Perkuat Kompetensi SDM Jelang Akreditasi
Kankan mengungkapkan, persoalan sampah di kawasan tersebut sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak awal dirinya menjabat sebagai Camat Bojongsoang.
Bahkan, saat itu ia mengaku membersihkan lokasi menggunakan biaya pribadi sembari mencari tahu asal-usul sampah yang dibuang ke sana.
Ia mencontohkan keberhasilan penanganan persoalan serupa di Desa Lengkong. Menurutnya, pengelolaan sampah di wilayah tersebut kini mulai tertata setelah dilakukan evaluasi terhadap pengelola dan mendorong masyarakat memilah sampah dari rumah.
“Hampir dua bulan ini sampah di Lengkong sudah terkelola dengan baik. Bahkan ada dua RW yang sudah mandiri dengan pengelolaan maggot sehingga tidak lagi membuang sampah ke TPS3R,” katanya.
Pengalaman itu akan diterapkan di Ciganitri. Kankan menegaskan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci penyelesaian persoalan sampah, bukan hanya mengandalkan pengangkutan oleh pemerintah.
“Saya tidak mau hanya asal angkut sampah, tapi tidak ada perubahan perilaku. Kalau karakternya tidak berubah, masalah ini akan terus berulang. Pemerintah harus berbuat, masyarakat juga harus berbuat,” tegasnya.
