“Kami pun sudah menyampaikan imbauan melalui surat edaran kepada para petani, petugas lapangan, dan camat selaku pembina wilayah untuk memantau ketersediaan air secara berkala,” kata Ina.
Ia juga mengimbau petani yang menggarap sawah tadah hujan untuk menyesuaikan pola tanam apabila kondisi air mulai terbatas.
“Bagi petani atau penggarap di sawah tadah hujan, kami mengimbau untuk beralih sementara waktu ke tanaman sayuran yang membutuhkan air lebih sedikit, seperti caisim atau sosin, kangkung, bayam,” ujarnya.
Baca Juga:Kabupaten Bandung Cetak Rekor WTP Satu Dekade Berturut-turutDolar Tembus Rp18.000, Pengrajin Tempe di Kabupaten Bandung Tertekan Daya Beli dan Kenaikan Bahan Baku
Berdasarkan data Distan Kabupaten Bandung, total luas lahan sawah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 28 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 ribu hektare merupakan sawah beririgasi, sedangkan sisanya merupakan sawah tadah hujan yang lebih rentan terdampak kekeringan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bandung mengusulkan penanganan 546 daerah irigasi kepada pemerintah pusat dengan total kebutuhan anggaran mencapai Rp947 miliar.
Dari usulan tersebut, pemerintah pusat menyetujui alokasi Rp334 miliar pada 2026, sementara sisanya direncanakan akan direalisasikan pada tahun berikutnya.
