Sebaliknya, di Kuala Lumpur terdapat sekitar 700-800 agen perjalanan yang siap mengirimkan wisatawan ke Indonesia.
“Dengan dibukanya kembali Bandara Husein, itu artinya akan memudahkan konektivitas antara Kuala Lumpur dengan Bandung. Waktu perjalanan akan lebih singkat karena tidak perlu tambah 3-4 jam ke Cengkareng, dan otomatis biaya lebih hemat,” papar.
Menurutnya kemudahan akses ini juga berdampak pada wisata bisnis, golf, hingga mempermudah arus ekspor-impor, khususnya tekstil dari Bandung yang selama ini harus dialihkan melalui Jakarta.
Baca Juga:GMHI Merasa Aneh dengan Bantahan Kejati Jabar Terhadap Status Terangka Wabup IndramayuJustice Collaborator Akan Ditempuh Sony Sonjaya!
Di sisi lain, menguatnya nilai tukar Ringgit Malaysia sebagai mata uang terkuat kedua di Asia setelah Yuan menghadirkan tantangan tersendiri.
Tren ini sangat positif bagi industri ekspor dan pariwisata inbound, namun membuat sektor outbound sedikit mengalami stagnasi akibat pelemahan Rupiah.
“Selisih kurs sangat membantu menambah keuntungan usaha pariwisata kita di Jabar,” kata Daniel.
Untuk menyiasati dinamika tersebut, ASITA Jabar berencana melakukan kunjungan balasan ke Malaysia pada bulan depan guna mengenalkan kembali potensi Jawa Barat secara lebih luas ke berbagai daerah.
Pihaknya juga akan melakukan penetrasi ke beberapa kota di Malaysia untuk mengenalkan kembali potensi Jawa Barat. Terutama ke Kelantan, Kuching, dan Sabah.
‘’Kita upayakan agar pasar pariwisata kita tidak hanya Kuala Lumpur-minded, tapi bisa lebih menyebar luas,” kata Daniel. (yan)
