Dampak penutupan sementara itu dipastikan akan terasa karena Kampung Naga merupakan salah satu magnet wisata utama Kabupaten Tasikmalaya. Berdasarkan data kunjungan wisata periode 26 hingga 31 Mei 2026, Kampung Naga menjadi destinasi kedua paling banyak dikunjungi wisatawan setelah Gunung Galunggung.
Dalam periode tersebut, Gunung Galunggung mencatat 4.643 pengunjung atau lebih dari separuh total kunjungan wisata ke objek yang dikelola pemerintah daerah. Sementara Kampung Naga dikunjungi 1.293 wisatawan dan berada di posisi kedua, disusul Lokawisata Pamijahan dengan 966 pengunjung.
Meski angka kunjungan diprediksi menurun selama masa penutupan, pemerintah menilai langkah tersebut merupakan konsekuensi logis dari komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat adat untuk menjaga kelestarian kawasan sekaligus meningkatkan kualitas destinasi.
Baca Juga:Terekam CCTV Saat Bobol Toko, Spesialis Pencuri di Sukaraja Tasikmalaya Akhirnya Dibekuk PolisiSejumlah Pejabat Polres Tasikmalaya Berganti, Kompol Asep Muslihat Resmi Jabat Wakapolres
Sementara itu, Asep Zaini mengungkapkan sedikitnya lima program strategis tengah dipersiapkan guna mendukung transformasi Kampung Naga pasca revitalisasi. Program tersebut meliputi pengembangan edukasi budaya dan lingkungan berbasis kearifan lokal, penyediaan pusat informasi bagi pengunjung, kerja sama penelitian dengan sekolah dan perguruan tinggi, digitalisasi budaya dan pengarsipan pengetahuan lokal, serta peningkatan kapasitas masyarakat sebagai pemandu wisata edukatif profesional.
“Selanjutnya pemerintah mendorong kerja sama dengan sekolah dan perguruan tinggi untuk penelitian serta melakukan digitalisasi budaya dan pengarsipan pengetahuan lokal,” jelas Asep.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemkab Tasikmalaya berharap Kampung Naga dapat kembali dibuka pada September 2026 dengan wajah baru. Bukan hanya sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga sebagai percontohan nasional kawasan adat yang lestari, edukatif, berkelanjutan, dan tetap kokoh menjaga nilai-nilai tradisi yang diwariskan leluhur.
Penutupan sementara ini pun diharapkan menjadi momentum penting bagi Kampung Naga untuk berbenah, sehingga ketika kembali dibuka nanti, kawasan adat legendaris tersebut mampu menawarkan pengalaman wisata yang lebih berkualitas tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga warisan budaya Sunda. (Hendi)
Reporter: Hendi
