Selama sekitar dua tahun setengah mengajar di sekolah terpencil, Urip mengaku perhatian terhadap guru honorer di wilayah pedesaan masih belum maksimal. Pada masa awal mengabdi, ia bahkan harus menerima imbalan yang sangat terbatas.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah. Bagi Urip, mengajar di kampung sendiri adalah bentuk pengabdian kepada desa tempat ia tumbuh dan menempuh pendidikan.
“Kecil atau besar, selama kita ikhlas, yang paling penting ini desa saya, kampung saya, dan tempat di mana saya belajar serta mengambil makna dari kehidupan. Kecil atau besar, selama kita berusaha, pasti akan ada hasil yang terbaik,” pungkasnya. (Wit)
