“Dulu saya ke SMP jalan kaki pulang pergi. Ke SMA juga begitu, bahkan kuliah pun pulang pergi dari sini. Jadi kalau bagi saya pribadi, karena sudah terbiasa sejak kecil, tidak terlalu menyusahkan,” tuturnya.
Meski demikian, Urip mengakui kondisi paling mengkhawatirkan terjadi saat curah hujan tinggi. Jalan satu-satunya menuju sekolah sering mengalami longsor karena berada di jalur menanjak dengan tebing di sisi jalan.
“Kalau hujan deras, yang paling rawan itu longsor. Batu-batu dari tebing atas sering jatuh ke jalan dan menghalangi akses. Selain itu saluran air kecil, jadi air meluap ke badan jalan,” katanya.
Baca Juga:CJIBF 2026, Gubernur Ahmad Luthfi Tawarkan Berbagai Proyek InvestasiĀ Usai Mengamuk di RS, Pria Disabilitas Ditemukan Tewas Tenggelam di Situ Cikaret Cibinong
Ia menyebut warga desa kerap bergotong royong memperbaiki jalan, terutama ketika musim hujan. Namun kerusakan sering kembali terjadi karena material jalan terbawa aliran air.
“Kami bersama warga sering memperbaiki jalan. Tapi kalau hujan deras, biasanya rusak lagi karena terbawa air,” ucapnya.
Kondisi SDN Giriasih menjadi potret nyata bahwa masih ada wilayah di Bandung Barat yang membutuhkan perhatian lebih, khususnya terkait infrastruktur pendidikan.
Jalan menuju sekolah yang layak bukan sekadar soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut keselamatan dan hak anak untuk memperoleh pendidikan dengan mudah. (Wit)
