Kondisi semakin sulit ketika hujan turun. Jalan yang semula kering berubah menjadi licin dan berlumpur. Tanah di beberapa titik kerap longsor kecil, membuat akses menuju sekolah semakin berisiko.
Anak-anak terpaksa berjalan lebih pelan sambil mencari pijakan yang aman. Tak jarang sepatu mereka penuh lumpur sebelum sampai di sekolah. Namun kondisi tersebut tak pernah menjadi alasan bagi mereka untuk bolos belajar.
Sekolah yang berada di atas bukit itu menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di kawasan tersebut. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan dan perbukitan hijau. Suasana tenang jauh dari kebisingan kota, tetapi akses yang sulit menjadi tantangan utama bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Baca Juga:CJIBF 2026, Gubernur Ahmad Luthfi Tawarkan Berbagai Proyek Investasi Usai Mengamuk di RS, Pria Disabilitas Ditemukan Tewas Tenggelam di Situ Cikaret Cibinong
Bukan hanya murid yang harus berjuang. Para guru di sekolah tersebut juga menjalani tantangan serupa untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Guru Bahasa Inggris SDN Giriasih, Urip Ripana (27), mengaku sudah mengajar di sekolah itu selama sekitar dua setengah tahun.
Pria yang kerap disapa Urip, merupakan warga asli setempat yang memilih mengabdi di sekolah tersebut karena kebutuhan tenaga pendidik masih sangat minim.
Urip menuturkan, sebelumnya ia sempat mencoba melamar ke tingkat SMP dan SMA. Namun saat itu, SDN Giriasih sedang membutuhkan guru bahasa Inggris, sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ia miliki.
“Saya kebetulan asli warga sini. Sebelumnya sempat melamar ke SMP dan SMA, tapi di sini sedang membutuhkan guru bahasa Inggris. Karena memang kekurangan guru, akhirnya saya memutuskan mengajar di sini,” katanya.
Keterbatasan tenaga pengajar hingga kini masih menjadi persoalan. Menurut Urip, beberapa guru harus merangkap mengajar di lebih dari satu kelas karena jumlah tenaga pendidik tidak sebanding dengan kebutuhan sekolah.
“Seperti kelas 1 dan kelas 2, guru harus merangkap. Sekarang juga guru kelas 5 sudah pensiun, jadi memang masih kekurangan guru,” ujarnya.
Baca Juga:Pertamina Perkuat Aliansi Strategis untuk Dorong Inovasi Digital di Sektor Hulu MigasWagub Jateng Kawal Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Jamin Pendidikan dan Pendampingan Hukum Korban
Sebagai warga yang lahir dan besar di kawasan tersebut, Urip mengaku sudah terbiasa dengan medan berat menuju sekolah. Sejak kecil, ia juga menempuh perjalanan dengan berjalan kaki untuk bersekolah.
