Jumhur juga menyoroti biaya pembangunan fasilitas pengolahan yang dinilai relatif terjangkau. Menurutnya, teknologi yang digunakan cukup sederhana dan mayoritas merupakan hasil karya anak bangsa.
“Biayanya tidak besar. Justru alat-alatnya sederhana dan punya nilai tambah yang terus berjalan. Banyak dibuat oleh orang Indonesia sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, pengelola pengolahan sampah Pasar Caringin menjelaskan bahwa teknologi berbasis bioteknologi tersebut baru berjalan sekitar tiga bulan. Dalam kurun waktu itu, puluhan ton sampah pasar telah berhasil diolah menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Baca Juga:Pertamina Perkuat Aliansi Strategis untuk Dorong Inovasi Digital di Sektor Hulu MigasWagub Jateng Kawal Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Jamin Pendidikan dan Pendampingan Hukum Korban
Namun, pihak pengelola mengaku masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait distribusi hasil produksi dan regulasi yang belum sepenuhnya mengakomodasi teknologi pengolahan sampah berbasis bioteknologi.
Mereka berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih lanjut agar produk-produk hasil pengolahan sampah seperti silase, bioetanol, dan pupuk organik dapat terserap pasar lebih luas serta memiliki kepastian regulasi.
Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup ke Pasar Caringin ini menjadi sinyal dukungan pemerintah terhadap pengembangan sistem pengolahan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular.
Selain mengurangi beban sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA), model seperti ini dinilai mampu mendorong kemandirian energi sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan limbah yang lebih produktif.
