“Meski jumlahnya sudah termasuk ideal, namun UPI tetap menaruh perhatian serius, baik dalam percepatan jumlah maupun dalam peningkatan kualitas dan dampak kegurubesaran, sehingga tidak hanya berhenti di publikasi, atau penunaian tugas-tugas akademik rutin semata,” tuturnya.
Prof. Didi menambahkan, bertambahnya Guru Besar akan memperkuat tridharma perguruan tinggi, mulai dari pengajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Ia mencontohkan sejumlah penelitian para profesor baru yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pengembangan energi alternatif ramah lingkungan hingga solusi pengelolaan sampah perkotaan.
Baca Juga:Kemenkop Perkuat Transformasi Pertambangan Berbasis Koperasi di NTBTangis Haru Valentina dan Kisah Kebermanfaatan Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng
“Riset seperti ini bukan hanya penting bagi dunia ilmu pengetahuan tetapi juga bagi masyarakat. Dengan demikian, keberadaan guru besar yang ‘berdampak’ bukan semata slogan,” tegasnya.
Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., mengatakan, para Guru Besar yang dikukuhkan memiliki kepakaran di berbagai bidang strategis, mulai dari Artificial Intelligence (AI), energi alternatif, pangan, hingga teknologi lingkungan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah penelitian Prof. Eka Cahya Prima mengenai pengembangan material sel surya. Dalam pidato ilmiahnya, ia mengangkat tema “Inovasi Material Sel Surya melalui Pendekatan Teori dan Spektroskopi Sebagai Solusi Strategis Krisis Energi dan Perubahan Iklim Global”.
Selain itu, Prof. Dadi Rusdiana juga mengangkat kajian di bidang fisika material optoelektronik melalui tesis berjudul “Pemanfaatan Material Semikonduktor Baru Dalam Rekayasa Piranti Optoelektronik Fotodetektor Sebagai Kontribusi Nyata Terhadap Pengembangan Teknologi Informasi Dan Energi Dalam Upaya Mewujudkan Kemandirian Bangsa”.
Tak kalah menarik, Prof. Dr. Indra Mamat Gandidi menyoroti persoalan sampah perkotaan melalui tesis “Integrasi Teknologi Informasi dan Konversi Termokimia Dalam Transformasi TPA Desentralisasi: Paradigma Baru Pengelolaan Sampah Padat Perkotaan”.
Topik tersebut dinilai relevan dengan kondisi Kota Bandung yang hingga kini masih menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah.
Sementara itu, Prof. Eka Cahya Prima mengaku saat ini dirinya bersama mahasiswa UPI tengah fokus mengembangkan teknologi sel surya berbahan organik maupun anorganik melalui laboratorium energi surya yang dibangunnya di kampus.
