Perjalanan tersebut tentu tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu. Namun, ada satu prinsip sederhana yang selalu ia pegang: tidak menunda pekerjaan.
“Kalau bisa dikerjakan sekarang, ya kerjakan sekarang. Jangan ditunda,” tegasnya.
Dukungan keluarga, khususnya suami, juga menjadi kekuatan penting dalam menyelesaikan studinya. Baginya, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Baca Juga:Tebang Bambu Berujung Maut, Pria 60 Tahun Tewas Tertimbun Longsor di Dramaga Bogor,Pria Lansia Tertimbun Longsor saat Tebang Bambu di Dramaga Bogor, BPBD Lakukan Pencarian
Di usia yang tidak lagi muda, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal fisik, tetapi juga ekspektasi publik terhadap gelar yang disandang. Namun, Dr. Asih menyadari bahwa setiap orang memiliki batas dan keahlian masing-masing.
Ia menegaskan keinginannya untuk terus berkontribusi sebagai praktisi sekaligus akademisi di bidang komunikasi pemasaran digital.
“Saya ingin dikenal sebagai praktisi yang mendalami komunikasi pemasaran digital, dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang,” ungkapnya.
Ke depan, ia membuka kemungkinan untuk melanjutkan ke jenjang profesor. Namun, baginya, berbagi ilmu kepada mahasiswa tetap menjadi prioritas utama.
Di balik pencapaian tersebut, ia juga mengakui adanya tantangan yang sangat manusiawi: rasa lelah dan malas.
Puncak kelelahan bahkan ia rasakan menjelang sidang terbuka. Beberapa hari sebelumnya, ia masih berada di Denpasar untuk menjalankan tugas pekerjaan.
“Saat mendapat kabar jadwal sidang, saya langsung lemas. Tapi mau tidak mau harus tetap dijalani,” kenangnya.
Baca Juga:Sindikat Curanmor Jonggol Terbongkar, Pelaku dan Dua Penadah Dibekuk PolisiNobar Berujung Maut, Bobotoh Muda di Tasikmalaya Tewas Diduga Dikeroyok
Dalam kondisi tersebut, ia harus tetap menjalankan berbagai peran sekaligus memimpin rapat, bertemu manajemen, hingga menyiapkan kegiatan akademik mahasiswa.
Namun, bagi Dr. Asih, semua kembali pada tanggung jawab.
“Kadang rasa malas itu ada. Tapi ketika itu sudah menjadi tanggung jawab, ya harus diselesaikan,” ujarnya.
Di penghujung perbincangan, ia menyoroti satu kebiasaan yang menurutnya banyak terjadi di kalangan mahasiswa saat ini: menunda pekerjaan.
Ia melihat kebiasaan tersebut bukan hal sepele, melainkan pola yang dapat berdampak pada perjalanan akademik maupun karier.
“Banyak yang terbiasa mengerjakan di saat terakhir. Padahal, kalau ingin berkembang, jangan membiasakan menunda,” katanya.
Ia kembali menegaskan prinsip hidup yang selama ini ia jalani, melakukan sesuatu pada waktunya.
