Ia juga mengingatkan, pendekatan parsial dapat memperkuat budaya korupsi dan merusak legitimasi penegakan hukum.
“Tidak ada racun yang lebih cepat merusak legitimasi selain tebang pilih,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai konstruksi perkara berpotensi melemah jika penyidikan tidak diperluas. Ketimpangan dalam penanganan dapat dimanfaatkan dalam proses persidangan.
Baca Juga:Farmasi dan Apoteker UBTH Tasikmalaya Raih Akreditasi TertinggiBangkitkan Ekonomi Jabar, 62 Pengusaha Resmi Perkuat Japnas
Gautama melihat indikasi kuat bahwa praktik ini bersifat sistemik, tercermin dari keterlibatan pejabat lintas level, termasuk yang baru menjabat.
Menurutnya, momentum pengungkapan saat ini sangat krusial. Jika tidak dimanfaatkan, peluang membongkar jaringan secara menyeluruh bisa hilang.
“Kesalahan terbesar bukan gagal di awal, tetapi berhenti saat jalan sudah terbuka,” pungkasnya.
