Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan, Momen Penggugur Dosa?

Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan, Momen Penggugur Dosa?
Ilustrasi seorang muslimah mengalami sakit di 10 hari terakhir Ramadan. Dok. Freepik
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan menjadi momen berburu pahala bagi umat Muslim. Malam-malam terakhir di bulan suci tersebut diyakini sebagai momen di mana pahala dilipatgandakan.

Untuk, di 10 hari terakhir Ramadan, tidak sedikit umat Muslim yang memperbanyak salat malam, membaca Al-Quran, hingga beritiikaf di masjid untuk berburu malam Lailatul Qadar.

Namun di tengah semangat beribadah, sebagian orang justru mengalami penurunan kesehatan tubuh. Tak hanya rasa lemas yang mulai terasa, demam, flu, hingga radang tenggorokan biasanya lebih terada di 10 hari terakhir Ramadan.

Baca Juga:Harga Telur Ayam di Bandung Mulai Lampaui HAP, Ini Kata BapanasMangkrak Puluhan Tahun, RI Percepat Proyek Abadi Masela

Bagi sebagian orang, gejala-gejala tersebut dimaknai sebagai penurunan kondisi biasa. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan, apakah sakit di 10 hari terakhir Ramadan memiliki makna khusus dalam Islam? Benarkah itu tanda penggugur dosa?

Dalam ajaran Islam, sakit tidak selalu dimaknai sebagai sesuatu yang buruk. Penurunan kesehatan seringkali dimaknai sebagai ujian dari Allah Ta’ala hingga menjadi penggugur dosa.

Almarhum Syekh Ali Jaber pernah mengatakan bahwa, beruntunglah orang yang diuji dengan sakit di bulan Ramadan, lebih-lebih plagi pada 10 malam terakhir.

Menurutnya, orang yang sakit di momen itu boleh jadi doanya sedang dikabulkan dan digugurkan dosa-dosanya. Ini menjadi ujian kesabaran bagi umat Muslim dan mengingatkan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 153. “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Selain itu, Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muhammad dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim bersabda bahwa, “Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan atau kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebahagian dosa-dosanya.”

Dalam hadits riwayat Sunan At-Thirmidzi bahwa, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, dia akan mengujinya dengan musibah.”

Baca Juga:DBL Play Road to Kopi Good Day DBL Camp 2026 Berakhir, 10 Student-Athlete Ini Melanjutkan Mimpinya ke AmerikaPintu VIP: Program Eksklusif Bagi Trader Elite PINTU

Dengan adanya firman Allah Ta’ala serta sabda Nabi Muhammad SAW, maka penurunan kondisi kesehatan atau sakit di 10 hari terakhir Ramadan diyakini sebagai momen penggugur dosa bagi umat Muslim.

Terlebih, bagi orang-orang yang menjalaninya dengan sabar dan senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala meminta kesembuhan, serta berikhtiar dengan menjalani pengobatan. Wallahualam bissawab.

0 Komentar