Menjaga Alam Lewat Kearifan Budaya: Tepang Taun Kabuanaan ke-4 Perkuat Gerakan Laku Patanjala

Merawat lingkungan lewat konsep kearifan budaya yang digelar pada Tepang Taun Kabuanaan ke-4, di Bale Gede Gun
Merawat lingkungan lewat konsep kearifan budaya yang digelar pada Tepang Taun Kabuanaan ke-4, di Bale Gede Gunung Masigit Kareumbi, Cimande, Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang/Istimewa
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Upaya merawat lingkungan berbasis daerah aliran sungai (DAS) melalui konsep kearifan budaya kembali dilakukan dalam kegiatan Tepang Taun Kabuanaan ke-4. Kegiatan ini digelar di Bale Gede Gunung Masigit Kareumbi, Cimande, Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

Ketua Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP), Anwar Maulana, mengatakan bahwa BIPP bukanlah lembaga berbentuk yayasan, melainkan organisasi kemasyarakatan yang menaungi incu putu di berbagai wilayah pangauban.

“Setiap pangauban tersebut berada di wilayah daerah aliran sungai, yang memiliki tanggungjawab bersama dalam menjaga kelestarian alam,” katanya, Minggu (15/3).

Baca Juga:ESDM Apresiasi Kesiapan Pertamina Jaga Pasokan Energi Selama Ramadan dan Idulfitri 2026BSI Berbagi: 5.000 Anak Yatim Terima Santunan Serentak di Seluruh Indonesia

Spirit menjaga alam melalui kearifan budaya itu dilaksanakan pada Sabtu (28/2/2026). Pertemuan yang dikemas dalam bentuk sawala tersebut menegaskan pentingnya Laku Patanjala sebagai gerakan budaya masyarakat dalam merawat lingkungan berbasis DAS.

Sekitar 150 incu putu dari berbagai pangauban DAS hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka berasal dari wilayah aliran sungai seperti Cimanuk, Citarum, Cimandiri, Ciliwung, Cisanggarung, Ciwulan hingga Citanduy.

Selain itu, sejumlah akademisi dan undangan lainnya turut ambil bagian dalam forum yang menjadi ruang diskusi sekaligus konsolidasi gerakan budaya tersebut.

Pertemuan ini secara khusus membahas persiapan pelaksanaan Tepang Taun Laku Patanjala Kabuanaan yang rencananya akan digelar pada akhir Ramadan tahun ini.

Agenda penting lainnya adalah rencana penyerahan mandat Kabuanaan dari Pangauban Citarum kepada Pangauban Cimandiri sebagai bagian dari siklus kepemimpinan dalam gerakan tersebut.

Laku Patanjala sendiri merupakan praktik sosial masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dengan berpijak pada kearifan budaya berbasis daerah aliran sungai.

Dalam konsep ini terdapat tiga tahapan utama yang dijalankan, yakni Laku Kasaliraan, Laku Kanagaraan, dan Laku Kabuanaan, yang menjadi landasan nilai dalam merawat hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga:Transaksi ZISWAF BSI Naik 14 Persen Selama Ramadan    Silaturahmi Akbar PKB, Kang Cucun Serahkan Kendaraan Ambulans untuk 31 Kecamatan

“BIPP itu bukan yayasan, tetapi organisasi yang menaungi incu putu di masing-masing pangauban atau daerah aliran sungai seperti Cimanuk, Citarum, Cisanggarung, dan Cimandiri,” tegas Anwar.

Ia menambahkan, kegiatan Laku Darma Patanjala Kabuanaan merupakan kelanjutan dari mandat yang sebelumnya dipegang oleh Pangauban Cimanuk dan kemudian dilanjutkan oleh Pangauban Citarum.

0 Komentar