JABAR EKSPRES – Komandan tertinggi angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan pihaknya memiliki kendali intelijen penuh selama 24 jam di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan di tengah pelaksanaan latihan militer di jalur pelayaran strategis tersebut pada Senin.
Kepala Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mencakup wilayah permukaan laut, udara, hingga bawah laut. Pernyataan tersebut dikutip media pemerintah Iran.
Menurutnya, pengawasan intensif itu bertujuan memastikan keamanan navigasi di Selat Hormuz, yang setiap harinya dilintasi lebih dari 80 kapal tanker minyak dan kapal kontainer. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute perdagangan maritim paling sibuk di dunia.
Baca Juga:Badai Terjang Pulau Utara Selandia Baru, Ribuan Rumah Padam dan Penerbangan DibatalkanGuterres Dorong Nigeria Pimpin Afrika dan Dukung Kursi Tetap di Dewan Keamanan PBB
Tangsiri menyebut latihan militer digelar di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz, dengan pulau-pulau di sekitarnya berperan sebagai “garis pertahanan” yang berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut IRGC. Ia menambahkan bahwa latihan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang berfokus pada manuver taktis dan penggunaan sejumlah peralatan, sebagian di antaranya belum dipublikasikan.
“Respons cepat dan tegas terhadap ancaman keamanan maritim menjadi fokus utama latihan ini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa unit reaksi cepat IRGC secara berkala berlatih melakukan tindakan intervensi, pemeriksaan, hingga penyitaan kapal yang dianggap tidak memiliki izin di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sebelumnya, IRGC mengumumkan dimulainya latihan bertajuk “Pengendalian Cerdas Selat Hormuz” yang berlangsung di bawah supervisi Panglima IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour.
Menurut pernyataan resmi, latihan tersebut dirancang untuk menguji kesiapan operasional, skenario pengamanan, serta respons militer terhadap potensi ancaman di kawasan strategis tersebut. Selain itu, latihan ini juga menjadi bagian dari evaluasi posisi geopolitik Iran di Teluk Persia dan Laut Oman.
Kegiatan militer ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, terutama setelah Washington memperkuat kehadiran militernya di kawasan.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu mengumumkan rencana pengerahan kapal induk kedua ke Timur Tengah. Langkah tersebut melengkapi keberadaan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak di wilayah tersebut.
