JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Bandung mulai menggeser cara pandang dalam menangani persoalan banjir dan longsor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung menilai, banjir tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan kapasitas sungai.
Melainkan, akibat menurunnya daya resap air di kawasan perkotaan akibat perubahan tata guna lahan yang masif.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi menjelaskan, berkurangnya ruang terbuka hijau dan semakin luasnya permukaan tanah yang tertutup bangunan membuat air hujan tidak lagi terserap secara optimal.
Baca Juga:Strategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi Wamenkeu
Akibatnya, kata Didi, limpasan air meningkat dan risiko banjir menjadi lebih besar, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
“Selama ini banjir sering dikaitkan dengan kapasitas aliran sungai. Padahal yang paling mendasar adalah kapasitas resapan. Ketika resapan berkurang, potensi banjir otomatis meningkat,” kata Didi, Selasa (3/1).
Berdasarkan evaluasi tersebut, BPBD mendorong perubahan fokus mitigasi bencana dengan menitikberatkan pada upaya pemulihan dan penguatan fungsi lingkungan.
Strategi yang ditempuh antara lain melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi, serta pelaksanaan program penghijauan di sejumlah wilayah yang dinilai rawan banjir dan longsor.
Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan karena menyasar akar persoalan banjir, bukan hanya menangani dampaknya ketika bencana terjadi. Dengan meningkatnya kemampuan tanah menyerap air, limpasan permukaan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
“Upaya mengurangi banjir harus dimulai dari memperbesar daya serap tanah. Sumur resapan, kolam retensi dan penghijauan menjadi solusi yang paling realistis. Kawasan yang hijau memiliki kemampuan resapan jauh lebih baik dibandingkan kawasan yang gundul,” jelasnya.
Selain langkah struktural, BPBD juga menekankan pentingnya peran masyarakat dan pengembang dalam menjaga fungsi resapan air. Penanaman pohon di lingkungan permukiman serta penerapan konsep bangunan ramah air dipandang sebagai bagian penting dari upaya kolektif membangun ketahanan kota.
Baca Juga:Layvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling MenentukanDion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib Bandung
Menurut Didi, keberhasilan mitigasi bencana hidrometeorologi tidak bisa hanya bergantung pada intervensi pemerintah. Dibutuhkan kesadaran bersama untuk menjaga ruang hijau dan membatasi penutupan lahan dengan material kedap air.
“Mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran kolektif untuk menjaga ruang hijau dan tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan beton akan sangat menentukan masa depan Bandung dalam menghadapi ancaman banjir dan longsor,” pungkasnya.
