JABAR EKSPRES – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 menjadi momentum kebangkitan sektor perhotelan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) seiring meningkatnya arus kunjungan wisatawan.
Tingkat hunian kamar hotel dan penginapan tercatat mengalami lonjakan signifikan, bahkan melampaui capaian pada periode libur akhir tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bandung Barat, rata-rata tingkat okupansi hotel selama masa libur Nataru mencapai 74 persen dari total 12 hotel yang terdata.
Baca Juga:Relawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban BencanaDe Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC
Angka tersebut dinilai cukup menggembirakan, mengingat pada periode yang sama tahun lalu tingkat hunian belum mampu menembus angka 70 persen.
Ketua PHRI Bandung Barat, Eko Supriatno, mengatakan peningkatan okupansi mulai terlihat sejak momentum libur Natal dan terus menunjukkan tren kenaikan hingga melewati pergantian tahun. Bahkan, pada sejumlah hari tertentu, terutama saat puncak liburan, beberapa hotel mencatat tingkat keterisian kamar yang cukup tinggi.
“Sejak libur Natal, okupansi sudah berada di kisaran 66 persen dan terus meningkat. Setelah Tahun Baru 2026, rata-rata okupansi mencapai sekitar 74 persen. Kondisi ini lebih baik dibandingkan tahun lalu,” kata Eko saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, pada puncak libur Natal, tingkat hunian di sejumlah hotel bahkan menembus angka 84 persen. Tingginya keterisian kamar tersebut mencerminkan besarnya minat wisatawan untuk berlibur di kawasan Bandung Barat, khususnya di destinasi unggulan seperti Lembang dan sekitarnya.
Tren positif tersebut, lanjut Eko, diperkirakan masih berlanjut hingga awal Januari 2026. Hal ini seiring masih tersisanya masa libur sekolah dan libur akhir pekan yang kerap dimanfaatkan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata bersama keluarga.
“Untuk akhir pekan pertama Januari, pemesanan kamar sudah berada di atas 50 persen. Artinya, pergerakan wisatawan masih cukup tinggi dan belum sepenuhnya melandai,” ujarnya.
Menurut Eko, meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bandung Barat dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendukung. Salah satunya adalah kebijakan promo tarif kereta api yang dinilai efektif menarik wisatawan dari luar daerah, khususnya dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.
Baca Juga:20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis BerkelanjutanGelar CSR di Cimanggung, PT MBK Ventura Ajak Kelola Keuangan dan Peduli LingkunganÂ
Selain itu, perubahan pola perjalanan wisatawan juga turut berdampak pada tingkat hunian hotel. Jika sebelumnya wisatawan lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi, kini sebagian mulai beralih ke transportasi umum dan melanjutkan perjalanan menggunakan layanan transportasi daring.
