Pelatih hanya mau memindahkan pemain ke banyak posisi jika satu syarat terpenuhi, kepatuhan taktik. Eliano memenuhi itu. Ia memahami instruksi. Menjalankannya, dan menerima peran tanpa perlu negosiasi.
Dalam ruang ganti, pemain seperti ini jarang ribut. Tapi di papan taktik, mereka selalu penting. Persib punya pemain dengan nama besar. Punya eksekutor. Punya pemain pembeda. Tapi tim juara selalu membutuhkan satu tipe lain, penjaga struktur. Eliano adalah itu.
Ia membuat transisi berjalan rapi. Ia menutup lubang saat satu sisi rapuh. Ia membuat sistem tetap bernapas meski komposisi berubah. Ketika pemain lain menyerang naluri, Eliano menyerang logika.
Baca Juga:Kesabaran Berbuah Gol, Ramon Tanque Menjelma Jadi Bomber MematikanWiliam Marcilio Tutup Bab di Persib dengan Sikap Hormat dan Syukur
Ia mungkin tidak sering mencetak gol. Tapi tanpa pemain seperti dia, gol-gol itu tak akan pernah tercipta.
Sepak bola sering menilai pemain dari hal yang mudah dihitung. Tapi ada nilai yang hanya terasa oleh pelatih, rekan setim, dan penonton yang jeli. Nilai itu ada pada Eliano Reijnders.
Ia adalah pemain yang membuat Persib tetap utuh, apa pun situasinya. Di kiri, di kanan, di belakang, atau di tengah. Ia selalu siap. Dan di era sepak bola yang semakin menuntut fleksibilitas, Persib Bandung beruntung memiliki satu sosok langka: si kecil yang bisa melakukan segalanya, tanpa perlu berteriak bahwa ia bisa.
