JABAR EKSPRES – Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menyoroti meningkatnya kerentanan bencana di wilayah Cekungan Bandung akibat masifnya alih fungsi lahan di Jawa Barat.
Koordinator FK3I Pusat, Dedi Kurniawan, menyebut perubahan fungsi lahan menjadi faktor utama yang memperbesar ancaman bencana ekologis bagi masyarakat. Menurutnya, kawasan yang seharusnya menjadi penyangga lingkungan kini banyak berubah menjadi area wisata hingga permukiman.
“Berkaca dari kondisi di Sumatera, Cekungan Bandung sangat rentan terdampak bencana. Banyak perkebunan, hutan lindung, dan kawasan konservasi beralih fungsi menjadi destinasi wisata,” ujar Dedi kepada Jabar Ekspres, Senin (15/12).
Baca Juga:Dorong Hilirisasi Gas Bumi, PGN Tingkatkan Pemanfaatan Jadi Produk Bernilai TinggiWacana Pilkada Lewat DPRD, Bupati Bandung Pilih Irit Bicara
Ia menjelaskan, alih fungsi lahan secara besar-besaran terjadi di wilayah Bandung Selatan dan Bandung Barat. Maraknya pembangunan objek wisata dan perumahan di kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi bom waktu bencana.
“Di Bandung Selatan, alih fungsi lahan terjadi di Ciwidey, Pangalengan, serta kawasan perbukitan Kabupaten Bandung,” ungkapnya.
“Sedangkan di Bandung Barat, kawasan seperti Lembang, Dago Giri, Punclut, Cimenyan, dan sekitarnya kini berubah menjadi kompleks permukiman elit yang disisipi kawasan wisata,” lanjut Dedi.
Dedi mengungkapkan, dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di Bandung Barat. FK3I mencatat, degradasi kawasan juga terjadi dari wilayah Lembang hingga Subang.
“Cekungan atas Bandung sudah tidak mampu lagi menopang wilayah di bawahnya. Kondisi ini bisa memicu banjir besar maupun longsor,” jelasnya.
Ia juga menyoroti potensi ancaman gempa akibat aktivitas Sesar Lembang yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius.
“Ancaman gempa dari Sesar Lembang seharusnya mulai diukur secara serius. Pertanyaannya, amankah kita hidup di Cekungan Bandung?” katanya.
Baca Juga:Gunakan Metode Sling Load, Pertamina Gerak Cepat Pasok LPG ke Daerah Bener Meriah Petir Hantam Rumah di Cikalongwetan, Seorang Mahasiswa Terluka
Lebih lanjut, Dedi mengajak masyarakat Jawa Barat untuk bersikap kritis terhadap kondisi lingkungan saat ini. Menurutnya, ancaman bencana tidak sepenuhnya bisa diandalkan penanganannya oleh pemerintah saja.
“Sikap kritis bisa diwujudkan melalui dorongan penataan ulang, pembongkaran bangunan bermasalah, hingga pemulihan lingkungan secara bertahap,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan beton terus merangsek ke perbukitan utara dan meluas hingga wilayah selatan tanpa kendali yang jelas.
