Sidiq berharap, keberagaman ini bisa menjadi kekuatan dan inspirasi bagi masyarakat lain untuk hidup dalam harmoni dan persatuan.
Hal serupa dirasakan Dina Mariana Renata (21). Warga Cimahi yang merupakan keturunan Tionghoa ini mengaku bangga sekaligus terharu melihat etnis Tionghoa turut tampil dan mendapat ruang dalam festival tersebut.
“Seneng banget liat opa-opa dan oma yang menari dengan enerjik ya, terus juga aku sebagai orang Tionghoa juga sangat kagum dan apresiasi sekali adanya festival Nusantara seperti ini,” kata Dina dengan mata berbinar.
Baca Juga:Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’Dengan 107 Kasus, Kanker Payudara Jadi Penyakit Terbanyak Diderita Perempuan di Cimahi Sepanjang 2024
Menurut Dina, Sangkuriang Festival bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga cerminan wajah Cimahi sebagai kota multikultural. Meski berukuran kecil, Cimahi menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa beragam.
“Pokoknya sangat kagum banget, banyak etnis di Cimahi yang diberi ruang atau wadah ya untuk menunjukkan berbagai etnis budaya dan memperlihatkan pada dunia mungkin ya bahwa ragam budaya itu banyak di sini,” ungkapnya.
Dina mengaku sudah berada di alun-alun sejak pagi demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan pawai. Ia pun menyimpan harapan besar agar festival semacam ini dapat terus digelar secara berkelanjutan.
“Saya berharap sekali festival kebudayaan seperti ini bisa terus digelar ya, soalnya menurut aku dengan adanya festival yang menunjukkan keberagaman budaya di Cimahi bisa menjadi bukti bahwa kota Cimahi meski kecil tapi keberagaman umatnya sangat bersatu,” ucapnya penuh harap.
Sangkuriang Festival 2025 pun tak sekadar menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang perjumpaan, tempat keberagaman dirayakan tanpa sekat, dan persatuan tumbuh dari perbedaan. Di tengah gemerlap kostum dan hentakan musik tradisional, Cimahi kembali menegaskan jati dirinya, kecil dalam wilayah, besar dalam toleransi. (Mong)
