JABAR EKSPRES – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Muhammad Anis Matta menilai sudah waktunya Indonesia melakukan reposisi strategi investasi luar negeri.
Ia menyebut bahwa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah, menawarkan peluang ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan pasar tradisional seperti Eropa dan Amerika.
“Dari keuntungan ekonomi, (penduduk negara-negara) Islam terdiri atas dua miliar jiwa. Ini potensi sumber investasi yang dibutuhkan Indonesia saat ini, khususnya negara-negara teluk,” kata Anis dikutip dari ANTARA, Rabu (10/12).
Baca Juga:Modus Penghindaran Bea Keluar Meningkat, Menkeu Soroti Celah Pengawasan EksporKemiri Lombok Tengah Kian Mendunia, Ekspor RI Meroket 350 Persen Jadi 9,58 Juta Dolar AS
Menurutnya, dunia Islam sebenarnya adalah partner yang belum diseriusi selama ini.
“Volume perdagangan Indonesia dengan dunia Islam ada di urutan tiga setelah China dan ASEAN. China volume perdagangan sekitar 135 miliar dolar AS per tahun, dan ASEAN sekitar 82 miliar dolar AS per tahun (Malaysia dan Burnei Darussalam belum termasuk),” ujarnya.
Menurutnya, dunia Islam selama ini belum diperlakukan sebagai mitra strategis, padahal potensi ekonomi yang dimiliki sangat signifikan.
Sementara itu, perdagangan Indonesia dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim telah mencapai 62 miliar dolar AS per tahun.
Dengan potensi tersebut, Wamenlu Anis mengatakan seharusnya Indonesia memberikan focus besar investasi ke negara-negara Islam di Asia maupun Afirka.
Selama ini, orientasi kebijakan luar negeri Indonesia disebut masih terlalu condong ke negara-negara Barat.
Padahal volume perdagangan dengan Eropa hanya sekitar 35 miliar dolar AS per tahun, dan dengan Amerika 38 miliar dolar AS.
Baca Juga:Dinilai akan Saling Menguntungkan, India Bidik Indonesia untuk Jalin Kerja Sama Industri dan Investasi Tingkatkan Ekonomi, Digitalisasi UMKM Lewat QRIS Terbukti Buat Investasi Lebih Efisien
“Bahkan volume perdagangan dengan Singapura masih lebih besar disbanding dengan Eropa,” ujarnya.
Ia mengatakan, berdasarkan catatan tersebut menyadarkan para pihak bahwa negara-negara Islam di Asia dan Afrika merupakan partner yang selama ini kurang diseriusi.
“Kita sedang membuat portofolio investasi di Kemenlu, ini menjadi awal orientasi yang kuat pada integrasi ekonomi antara Indonesia dengan dunia Islam,” ujar Wamenlu.
