JABAR EKSPRES – Di tengah pandangan publik bahwa golf adalah olahraga mahal dan elitis, enam atlet golf asal Kota Cimahi justru menepis anggapan itu dengan torehan prestasi membanggakan.
Mereka berhasil lolos dari Babak Kualifikasi (BK) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2025, menandai kebangkitan cabang olahraga golf Cimahi yang selama ini bekerja dalam senyap namun berbuah nyata.
Babak kualifikasi tersebut diikuti oleh 80 pegolf dari 15 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Baca Juga:Pabrik Pengelolaan Sampah Senilai USD 200 Juta Bakal Dibangun di Jawa Tengah!FSRU Lampung Terima Kargo LNG, Jaga Keandalan Layanan Energi untuk Kelistrikan
Selama hampir sepekan, mulai Selasa (4/11/2025) hingga Senin (6/10/2025), lapangan Dago Heritage, Bandung, menjadi saksi perjuangan para atlet yang berlomba.
Bukan hanya untuk menang, tapi juga untuk mengukuhkan eksistensi daerahnya di ajang olahraga bergengsi tingkat provinsi.
Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) Jawa Barat, Sirojudin, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya penyelenggaraan BK Porprov XV tersebut.
Ia menyebut antusiasme para peserta sangat luar biasa, dengan semangat tinggi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi daerah masing-masing.
“Kegiatan ini alhamdulillah berjalan baik dan lancar. Para peserta dari 15 daerah kabupaten dan kota begitu antusias karena mereka ingin memberikan yang terbaik bagi daerahnya untuk bersaing menuju Porprov XV 2026 nanti,” ujar Sirojudin saat dikonfirmasi, Sabtu (8/11/25).
Menurutnya, keberhasilan suatu daerah dapat diukur dari perolehan medali yang diraih para atletnya.
Ia menegaskan, keikutsertaan di BK Porprov menjadi syarat mutlak bagi atlet yang ingin tampil di Porprov mendatang. Tanpa mengikuti babak ini, atlet dipastikan tidak bisa turun di ajang utama.
Baca Juga:Lewat IDSS, Polri Luncurkan Sistem Keamanan Digital Terintegrasi Berbasis Data dan TeknologiTinjau Lokasi Rencana Pembangunan Hutan Kota di Desa Tajur, Bupati Bogor Tegaskan Ini
Lebih lanjut, Sirojudin menuturkan bahwa dalam ajang kali ini tidak ada batasan usia. Peserta termuda berusia 10 tahun, sedangkan yang tertua berusia di atas 55 tahun.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pembina untuk menemukan bibit potensial yang dapat dikembangkan di klub, daerah, hingga level nasional.
“Bagi PGI Jabar, keterbatasan anggaran bukan penghalang. Kami terus mencari solusi dan upaya agar olahraga golf ini bisa berkembang lebih baik. Bantuan dari KONI sifatnya hanya stimulus, agar kegiatan bisa berjalan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran ekosistem dalam membangun olahraga golf mulai dari orang tua, pengurus cabang olahraga, hingga KONI.
