Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah: Representasi Jersey dalam Identitas Klub Sepak Bola

Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah: Representasi Jersey dalam Identitas Klub Sepak Bola
Pameran koleksi jersey Persib Bandung, di jalan Dipatiukur, Sabtu (25/10). (Sadam / JE)
0 Komentar

Nays Muntahar: Kolektor yang Menyimpan Cinta dalam Kain

Di antara para desainer, Nays Muntahar hadir sebagai penjaga memori. Bagi Nays, jersey bukan sekadar benda koleksi, melainkan fragmen sejarah yang menampung nostalgia.

“Di rumah sudah ada galeri pribadi. Tapi saya lebih berharap Persib punya museum besar yang bisa dikunjungi banyak orang.” harapnya dengan nada pelan.

Ia bercerita tentang rencananya membantu klub jika nanti museum resmi Persib benar-benar berdiri.

Baca Juga:Bersama Persib Bandung, Bojan Hodak Akhirnya Akhiri Rasa Penasaran Melawan SelangorAlasan Thom Haye Menghilang saat Persib Tekuk Selangor FC di ACL 2

“Saya sudah janji, kalau museumnya jadi, saya akan bantu isi dengan koleksi pribadi,” ujarnya mantap.

Hubungannya dengan klub bukan hanya sebatas penggemar. Dalam setiap kegiatan Persib, Nays kerap terlibat langsung, seperti tur trofi enam kota beberapa waktu lalu.

“Tim kolektor Persib juga ikut mengisi acara itu. Jadi kami memang selalu siap bantu kalau dibutuhkan,” tuturnya.

Kain yang Menyimpan Gairah

Sore itu, di tengah obrolan santai dan tawa ringan, perlahan muncul kesadaran kolektif bahwa jersey telah menjelma menjadi bahasa visual sepak bola.

Ia bukan lagi sekadar seragam bertanding. Jersey adalah cerita tentang masa lalu dan masa depan, tentang klub dan kotanya, tentang pemain dan penontonnya. Ia menjadi simbol perlawanan, semangat, dan kebersamaan.

Bagi klub, jersey adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah. Bagi desainer, ia adalah kanvas ekspresi. Bagi kolektor, ia adalah arsip budaya dan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Dari setiap jahitan, warna, dan tekstur, ada narasi tentang gairah yang diwariskan lintas generasi. Tentang anak kecil yang menonton di tribun sambil mengenakan jersey kebesaran, hingga orang dewasa yang menyimpan seragam lawas dengan rasa bangga.

0 Komentar