Tampak pada gambar banyak sekali lukisan binatang seperti sapi, kuda, kambing, dengan ukuran yang besar-besar. Terdapat pula sapi atau kuda yang ditunggangi saat mereka berburu.Kegiatan berburu ini tentu saja tidak mudah. Dibutuhkan keterampilan khusus dan pengetahuan tentang alam untuk bertahan hidup. Lukisan-lukisan berburu ini bisa dilihat sebagai cara masyarakat purba untuk mengabadikan pencapaian mereka dalam berburu dan mengungkapkan rasa hormat mereka terhadap alam yang telah memberi mereka kehidupan.
2. Tarian: Simbol Sosial dan Budaya yang Menyatukan
Selain berburu, motif tarian manusia juga sering terlihat dalam lukisan-lukisan ini. Tarian yang digambarkan bisa saja merupakan simbol sosial yang menunjukkan adanya hubungan antar anggota masyarakat. Bisa jadi, tarian ini merupakan bagian dari ritual atau perayaan기는 tertentu, di antaranya terdapat tradisi “Mangaro” atau tarian pencak orang Muna yang berasal dari Ewa Muna (Silat Muna). Tampak pada gambar dua penari “Mangaro” yang menggambarkan perkelahian.
Tarian dalam banyak kebudayaan prasejarah berfungsi sebagai cara untuk mempererat ikatan sosial dalam kelompok. Dalam konteks masyarakat Muna, tarian ini memiliki nilai penting sebagai sarana untuk menyatukan anggota komunitas, memperkuat ikatan antar sesama, serta merayakan keberhasilan atau kehidupan bersama. Lukisan-lukisan ini memperlihatkan bahwa seni, dalam bentuk tarian, memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial masyarakat masa lalu.
3. Kuda dan Perahu: Indikasi Kemajuan dalam Transportasi
Baca Juga:846 Wisudawan Digitech University Siap Dominasi Era Digital Penyelesaian Bandung Zoo Harus Berpijak pada Data dan Kajian Resmi Lembaga Berwenang
Motif lain yang ditemukan dalam lukisan gua ini adalah gambar kuda dan perahu. Penggambaran kuda bisa jadi memiliki makna yang lebih dalam selain hanya sebagai alat transportasi. Kuda sering kali dihubungkan dengan status sosial atau kekuatan dalam banyak kebudayaan, dan bisa jadi masyarakat Muna menggunakan kuda sebagai simbol status, kekuatan, atau keberhasilan dalam pertempuran.
Sementara itu, perahu menggambarkan hubungan erat masyarakat Muna dengan lingkungan perairan. Perahu juga berfungsi sebagai alat transportasi utama untuk mengakses wilayah-wilayah yang lebih jauh atau bahkan sebagai sarana untuk berdagang dan berinteraksi dengan masyarakat lain.
Motif perahu ini tidak hanya menggambarkan kebergantungan masyarakat terhadap perairan, tetapi juga membuka pemahaman tentang interaksi mereka dengan lingkungan luar, yang mungkin berkontribusi pada penyebaran kebudayaan.
