Tim ini bertugas mengelola insiden siber, mendeteksi potensi kebocoran data, hingga merespons ancaman secara cepat dan terukur.
“Kehadiran CSIRT menjadi bagian penting dalam manajemen insiden, memastikan setiap potensi gangguan atau kebocoran data dapat direspons sesuai prosedur,” ujar Deni.
Dari sisi teknis, CIMAHI-CSIRT menggunakan kombinasi Web Application Firewall (WAF) Cloudflare untuk melindungi aplikasi publik dari serangan, serta SIEM Wazuh untuk memantau aktivitas log dan mendeteksi ancaman secara real-time.
Baca Juga:BSSN Catat 6,7 Miliar Anomali Digital Selama 4 Tahun, Matangkan RUU Keamanan SiberPernah Jadi Korban, Pemprov Jabar Dorong Percepatan Pengesahan RUU Keamanan Siber
“Dengan dukungan teknologi ini, proses pencegahan, deteksi, dan penanganan insiden dapat dilakukan lebih efektif,” tandasnya. (Mong)
