Ketika Digitalisasi Jadi Tantangan Baru
Namun Billy menyadari, tantangan SDM aparatur negara ke depan bukan hanya soal mental dan akademik. Transformasi digital di birokrasi dan layanan publik kini menuntut aparatur yang adaptif secara teknologi dan memiliki literasi digital yang kuat.
“Reformasi birokrasi sekarang berbasis digital. Itu artinya, calon aparatur negara harus punya mindset digital sejak awal,” katanya.
Satu hal yang membedakan Martasandy Group dengan lembaga sejenis adalah fokus jangka panjangnya. Billy dan tim tidak hanya mengejar angka kelulusan atau sertifikat prestasi. Mereka menanamkan semangat pengabdian kepada para peserta, bahkan sejak hari pertama.
Baca Juga:Misi Balas Dendam! Persib Siap Buktikan Kualitas Lawan Lion City di GBLAPSG Tak Lagi Royal, Donnarumma Jadi Korban Kebijakan Baru Manajemen!
“Kami sering bilang ke peserta: setelah kamu lulus, tugasmu belum selesai. Justru dimulai. Karena kamu akan melayani masyarakat,” ujarnya.
Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab sosial, nasionalisme, dan etika profesi diajarkan secara konsisten. Bahkan, dalam beberapa program, Martasandy juga mengadakan kegiatan sosial dan pembinaan spiritual untuk mengasah kepekaan peserta terhadap realitas masyarakat.
Membangun Negeri, Satu Orang dalam Satu Waktu
Kini, setelah lebih dari satu dekade berjalan, Martasandy Group telah membina ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Sebagian besar berasal dari daerah-daerah pelosok, dengan semangat yang sama: ingin menjadi bagian dari solusi bangsa.
Namun Billy tetap merendah. Ia tak pernah menjadikan angka sebagai ukuran utama keberhasilan.
“Kalau satu orang yang kami bimbing bisa kembali ke daerahnya dan menjadi teladan di instansi tempat dia bekerja, itu sudah cukup. Karena negeri ini dibangun bukan oleh satu tokoh besar, tapi oleh ribuan orang kecil yang bekerja dengan hati,” katanya.
Bukan Sekadar Lulus, Tapi Siap Mengabdi
Di saat sebagian orang memilih mengubah negeri lewat jalur politik atau bisnis besar, Billy Martasandy memilih jalur yang lebih senyap: membina manusia, satu demi satu, dari akar.
Dan dari ribuan peserta yang telah ia bantu temukan arah hidupnya, kita tahu bahwa cara ini bisa jadi salah satu fondasi paling kuat untuk membangun negeri, pelan, namun pasti.
