Teaching Factory Jadi Wadah Siswa SMKN 3 Cimahi Asah Kompetensi Kuliner dan Bisnis

Sejumlah Siswa-siswi SMKN 3 Kota Cimahi saat Memamerkan Hasil Karya Kulinernya dalam Culinary Display Kreasi R
Sejumlah Siswa-siswi SMKN 3 Kota Cimahi saat Memamerkan Hasil Karya Kulinernya dalam Culinary Display Kreasi Rasa Inovasi Karya (mong)
0 Komentar

“Jadi ini dijual, baik untuk orang di luar SMK 3 maupun di dalam SMK 3. Profitnya buat sekolah lalu dibelikan bahan lagi. Jadi terus berjalan,” jelas Anggun.

Kepala Program Keahlian Kuliner SMKN 3 Cimahi, Widya Widina, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sistem pembelajaran berbasis blok.

Dalam sistem ini, siswa kelas XI jurusan kuliner fokus pada praktik selama satu bulan setengah sebelum mengikuti ujian praktik kolaborasi antar mata pelajaran.

Baca Juga:Panen Karya P5, Siswa Siswi SMKN 3 Cimahi Tampilkan Teater Kolosal Pelestarian Budaya dalam Bulan BahasaGempa Guncang Karawang Selatan, Sejumlah Rumah dan Gedung Rusak

“Dimana siswa-siswa ini, khususnya kelas XI kuliner, melaksanakan sistem blok. Di akhir masa blok ini mereka melaksanakan ujian dengan bentuk pameran karya,” terang Widya.

Pameran terbuka tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga untuk siswa adik kelas agar memiliki gambaran mengenai pembelajaran di tingkat berikutnya.

“Pameran ini dibuka untuk umum, terkhusus juga untuk adik kelasnya supaya mereka punya gambaran ketika nanti mereka di kelas 11, mereka juga akan mengalami hal yang sama,” jelasnya.

Widya menegaskan bahwa tidak ada kendala berarti dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis blok ini. Justru siswa menjadi lebih bersemangat karena merasakan langsung atmosfer industri melalui konsep teaching factory.

“Anak-anak lebih senang dengan kehadirannya, pembelajaran real ini menurut mereka tidak menjadi beban, malah menyenangkan,” ujarnya.

Konsep teaching factory menekankan pembelajaran berbasis industri. Siswa-siswi mengelola kafe secara penuh, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah makanan, hingga melayani pelanggan.

“Ada kasirnya juga, ada pembagian untuk pembuatan minuman, semua anak-anak yang mengelola,” papar Widya.

Baca Juga:Akibat Guncangan Gempa Magnitudo 4,9, Satu Mushalla di Bekasi Roboh 

Tillu Coffee and Eatry sendiri merupakan aula sekolah yang dialihfungsikan menjadi kafe khusus praktik siswa kuliner.

Kafe ini terbuka untuk masyarakat luas sehingga siswa memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan konsumen. Bahkan, sejumlah produk sudah mendapatkan pesanan sebelum acara dimulai.

“Kafe ini juga kita buka untuk umum, tidak hanya warga SMK saja, tapi orang luar juga bisa untuk berkunjung,” tambah Widya.

Lebih jauh, ia berharap program ini mampu meningkatkan kompetensi siswa dalam bidang kuliner sekaligus menanamkan jiwa wirausaha sejak dini.

0 Komentar