JABAR EKSPRES — Kota Bandung hingga kini belum memiliki alat pendeteksi gempa yang mampu secara spesifik membaca aktivitas Sesar Lembang. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Didi Ruswandi, menyusul meningkatnya aktivitas seismik di wilayah Lembang dan sekitarnya dalam beberapa minggu terakhir.
Didi menyebutkan bahwa sejak 24 Juli hingga 21 Agustus 2025, telah terjadi tujuh kali gempa di sekitar Sesar Lembang. Getaran gempa paling terasa di wilayah Cimahi, sedangkan di Kota Bandung hanya sebagian masyarakat yang merasakannya.
“Di kita, kemarin itu ada yang bilang kerasa, ada juga yang enggak. Tapi kalau enggak salah, yang kemarin dirasakan itu malah dampak dari gempa Karawang dan Bekasi, bukan dari Sesar Lembang langsung,” ungkap Didi, Kamis (21/8/2025).
Baca Juga:Aktivitas Sesar Lembang Terus Alami Peningkatan, Pemkot Bandung Siapkan Mitigasi Bencana TerpaduBadan Geologi Ungkap Penyebab Gempa M4,7 di Bekasi-Karawang, Dipicu Aktivitas Sesar Baribis
Menurutnya, alat deteksi yang tersedia saat ini masih belum cukup sensitif untuk mengidentifikasi secara dini pergerakan lempeng atau potensi gempa di jalur sesar aktif seperti Lembang. Ia menyebut, hal ini merupakan tantangan besar dalam sistem mitigasi bencana di wilayah Bandung Raya.
“Ya itu kemarin kita konsultasi itu justru, ya tanda atau perkiraan itu alat kita belum bisa mendeteksi,” jelasnya.
Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang membentang dari timur ke barat, melewati kawasan Lembang, Cimahi, hingga sebagian wilayah Kota Bandung. Aktivitasnya menjadi perhatian para ahli kebencanaan karena berada sangat dekat dengan kawasan padat penduduk. Potensi gempa dari sesar ini diperkirakan bisa mencapai magnitudo 6,5 hingga 7,0, yang dapat menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa jika terjadi tanpa mitigasi yang memadai.
“Karena itu satu-satunya jalan adalah membangun kesadaran dan kesiapan masyarakat sejak dini,” tegas Didi.
Karena belum adanya sistem peringatan dini yang efektif, BPBD Kota Bandung kini memfokuskan upaya pada pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan kebencanaan. Menurut Didi, masyarakat harus dibekali pengetahuan dasar tentang apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, terutama terkait perlindungan diri.
“Yang pertama dan utama itu membangun kapasitas masyarakat. Jadi masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa. Kita fokus pada edukasi, terutama perlindungan diri dari reruntuhan,” ujarnya.
