JABAR ESKPRES – Pernahkah Anda berpikir, mengapa banyak orang Cina yang tampak sederhana tetapi ternyata memiliki kekayaan yang melimpah? Bukan karena sulap, bukan pula semata warisan. Ada trik sederhana di balik gaya hidup mereka yang tenang, tetapi keuangan mereka tetap berjalan dengan baik.
Kebiasaan menabung masyarakat Tionghoa sederhana, namun berdampak besar. Kami ingin Anda menyimak dengan saksama, karena hal ini bukan hanya soal uang, melainkan juga tentang pola pikir.
Saya tidak mengajak Anda menjadi pelit, melainkan mengajak untuk berpikir ulang. Mungkin Anda bekerja keras setiap hari, tetapi merasa hidup tidak banyak berubah. Sering kali, jawabannya ada pada satu hal, cara Anda mengelola dan menyimpan uang.
Baca Juga:Alasan Bahasa Belanda Gagal Menjadi Bahasa Nasional IndonesiaHarga dan Spesifikasi Infinix Note 60 Pro Series Tandingan Baru Oppo dan Xiaomi
Bagi masyarakat Tionghoa, menabung bukan sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi budaya. Dan itu bukan karena mereka pelit, tetapi karena mereka memahami satu prinsip penting: uang kecil adalah pondasi untuk memiliki uang besar.
13 Rahasia Orang Cina di Indonesia Banyak yang Kaya
Berikut beberapa prinsip sederhana yang mereka terapkan, kami akan membahasnya secara lengkap penyebab banyak orang Cina yang kaya di Indonesia.
1. Menabung di awal, bukan menunggu sisa
Inilah pola pikir dasar yang sering terbalik di masyarakat kita. Banyak orang menabung hanya jika ada sisa. Padahal, apakah setiap bulan selalu ada sisa? Cara berpikir orang Cina berbeda. Begitu menerima penghasilan, hal pertama yang mereka lakukan adalah menyisihkan sebagian untuk tabungan atau investasi.
Misalnya, dari gaji Rp10 juta, minimal 30% langsung dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Sisanya baru dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Karena bila menunggu sisa, sering kali hasilnya justru tidak ada.
2. Menahan nafsu konsumsi
Godaan berbelanja saat ini sangat besar, apalagi semua serba mudah hanya dengan sekali klik. Namun, orang Cina memegang prinsip: jika tidak benar-benar diperlukan, lebih baik tidak membeli. Contohnya, ada seorang teman dengan keluarga yang sudah lama memiliki bisnis percetakan.
Meski berpenghasilan besar, ia tetap menggunakan telepon genggam lama, motor sederhana, dan makan di warung biasa. Katanya, “Untuk apa menghabiskan uang hanya demi terlihat keren di mata orang yang sebenarnya tidak peduli dengan hidup kita?” Dari situ saya belajar: mereka bukan tidak mampu membeli, melainkan memahami prioritas. Lebih baik hidup sederhana dengan tabungan yang kuat, daripada tampak kaya tetapi penuh tekanan.
