JABAR EKSPRES – Sejumlah pemilik kios di Jalan Raya Tangkuban Parahu, tepatnya di depan Restoran Sunda Asep Stroberi dikejutkan oleh kedatangan rombongan Satpol PP yang memaksa mereka untuk membongkar bangunannya, pada Kamis (8/8/2025).
Petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Subang itu datang sekitar pukul 10.00 WIB, dikawal aparat kepolisian, dan langsung memulai pembongkaran.
Pada Jumat (8/8), pukul 17.30 WIB, dua unit alat berat jenis beko sudah bersiaga di depan deretan kios yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang.
Baca Juga:Restoran Asep Stoberi Puncak Bogor Masih Berdiri Kokoh, Pedagang Kecewa hingga Lempar Telur BusukPedagang dan Warga Puncak Hadang Alat Berat, Minta Restoran Asep Stoberi Dibongkar
Rani (39), salah satu pemilik kios, mengaku terkejut dengan aksi penertiban tersebut. Ia mengatakan ada sekitar 14 kios yang menjadi sasaran pembongkaran.
“Kemarin siang sampai sore tiba-tiba datang petugas beserta beko. Katanya memang ditertibkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Di sini ada sekitar 14 kios,” ujar Rani, Sabtu (9/8/2025).
Menurutnya, para pedagang hanya diberi waktu tiga hari untuk membongkar sendiri kiosnya. Jika tidak, kios akan dibongkar paksa oleh petugas.
Pemerintah menjanjikan kompensasi berupa uang sebesar Rp10 juta selama dua bulan serta lokasi relokasi di sekitar Jalan Cagak.
Namun, Rani menilai tenggat waktu yang diberikan terlalu singkat, terlebih penggusuran dilakukan menjelang akhir pekan momen yang biasanya menjadi puncak keramaian pembeli.
“Minimal kasih kami waktu dua hari agar bisa persiapkan barang-barang,” ujarnya.
Karena terdesak, Rani terpaksa memindahkan seluruh barang dagangannya secara terburu-buru. Ia khawatir dengan nasib pedagang lain yang tidak memiliki tempat tinggal untuk menyimpan barang dagangan mereka.
Baca Juga:Warga Sukahaji Terancam Digusur Sepihak, Kuasa Hukum Warga Minta Bantuan IKADINPuluhan Rumah Warga di Pulogebang Digusur PN Jaktim
“Barang-barang saya terpaksa dibawa pulang. Tapi bagaimana dengan pedagang yang tidak punya rumah? Ini membuat kami sangat khawatir,” tambahnya.
Rani menceritakan, kios yang ia kelola merupakan usaha keluarga yang sudah ada puluhan tahun di lokasi tersebut.
“Saya mengikuti orang tua saya berjualan di sini. Sekarang saya dan suami yang meneruskan usaha keluarga ini,” imbuhnya.
Eli (52), pedagang lain yang sudah berjualan selama 15 tahun di kaki Gunung Tangkuban Parahu, juga menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai pemerintah tidak mempertimbangkan dampak sosial dari penggusuran ini.
