Dugaan Kekerasan Berkedok Kedisiplinan di SMAT KN Bandung, Tradisi Buruk Tak Boleh Dinormalisasi

Dugaan Kekerasan Berkedok Kedisiplinan di SMAT KN, Peneliti: Tradisi Buruk Tak Boleh Dinormalisasi
Gerbang menuju SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat. (Yanuar/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur terlebih di lingkungan pendidikan, perlu jadi perhatian serius. Belum lama ini, aksi perundungan hingga tindak kekerasan diduga terjadi di Sekolah Menengah Atas Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN), yang berlokasi di wilayah Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Sejumlah siswa diduga menjadi korban perilaku buruk yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Bahkan terdapat anak yang harus dirawat di rumah saki, karena tulang belakang retak hingga alami depresi berat.

Pembimbingan serta pengawasan dari pihak sekolah menjadi perhatian. Pasalnya, kekerasan yang dialami para korban seakan tak dianggap serius.

Baca Juga:Panda Cai Tao Rayakan HUT ke-15 di Taman Safari Bogor, Hadirkan Berbagai Aktivitas MenarikPastikan Tak Temukan Bendera One Piece Berkibar, Satpol PP Kota Bogor: Kalau Ada, Kami Tindak

Peneliti Pusat Riset Gender dan Anak sekaligus Ketua Pencegahan serta Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Antik Bintari mengatakan, jangan sampai perilaku buruk dinormalisasi dengan dasar alasan untuk mendisiplinkan.

“Tradisi yang buruk itu masa dipertahankan. Ada perbedaan mendasar antara mendisiplinkan, dengan perbuatan tindak kekerasan. Itu sudah jelas berbeda,” katanya kepada Jabar Ekspres melalui seluler, Senin (4/8/2025).

Menurut Antik, melakukan upaya untuk mendisiplinkan itu tidak harus dengan tindak kekerasan, sebab perilaku buruk tersebut hanya akan membuat salah satu pihak merasa tidak nyaman, terluka secara fisik, psikis dan lain-lain.

“Dan itu (terjadi akibat) adanya ketimpangan relasi kuasa. Sedangkan pendisiplinan kan tidak berbicara relasi kuasa,” bebernya.

“Dia berbicara egaliter tapi membentuk seseorang untuk perilaku yang lebih baik, berdasarkan norma dan etika standar berkehidupan,” lanjut Antik.

Menurut informasi yang dihimpun Jabar Ekspres, jumlah peserta didik yang menjadi korban perundungan hingga kekerasan di SMAT KN Bandung cukup banyak.

Bahkan, siswa yang mengundurkan diri alias tak melanjutkan pendidikan di SMAT KN Bandung, sekira mencapai 30 orang peserta didik.

Baca Juga:Festival Musik Ini Tawarkan Hiburan Ramah Anak dan KeluargaRamai Bendera One Piece Jelang HUT RI, Ketua MPR: Itu Kreativitas Nasionalis!

Perundungan hingga tindak kekerasan yang dilakukan senior kepada junior di SMAT KN cukup beragam. Perlakuan buruk tersebut yakni, mulai dari pemukulan dan pengeroyokan yang diduga dilakukan siswa senior kepada junior.

Mirisnya, SMAT KN Bandung merupakan sekolah menengah atas yang memiliki nilai keagamaan, keterampilan, peduli lingkungan hingga kedisiplinan tinggi berbasis semi militer.

0 Komentar