Tapi kenyataannya, kita justru terjebak di dalam gaya hidup.
Takut dianggap antisosial kalau tidak nongkrong. Takut dianggap ketinggalan zaman kalau ponsel kita jadul. Takut dibilang “enggak ke mana-mana” kalau tidak ikut liburan.
Padahal, kita tahu betul keuangan kita pas-pasan.
Tapi jebakan sosial inilah yang menciptakan tekanan itu. Sistemnya memang dirancang begitu, agar kita terus bergerak, terus bekerja keras, terus mengonsumsi, supaya roda ekonomi tetap berputar.
Tahukah kamu apa yang paling ironis?
Kita sering merasa beruntung menjadi bagian dari kelas menengah, karena tidak harus kelaparan, masih bisa membeli kopi, berlangganan Netflix, dan memenuhi kebutuhan dasar lainnya. Tapi di sisi lain, kita juga tidak pernah benar-benar bebas.
Baca Juga:7 Jenis Konfigurasi Mesin Sepeda Motor dan Karakteristiknya, Bukan Hanya 1 SilinderJangan Anggap Remeh! Ini Dampak Fatal Jika Telat Ganti Oli Mesin
Setiap kali ingin bernapas lega, selalu saja ada alasan baru untuk mengeluarkan uang. Selalu ada gaya hidup yang “harus” diikuti, gadget baru, tren fesyen terbaru, tempat nongkrong kekinian, biaya tak terduga ini dan itu.
Itulah mengapa kami menyebut kelas menengah sebagai “sapi perah” yang paling empuk.
Kita dipuji karena disebut sebagai tulang punggung ekonomi. Kita dianggap pahlawan karena pajak kita menopang negara. Tapi, di waktu yang sama, kita juga terus-menerus diperah. Kita dipaksa berpikir bagaimana cara bertahan minggu depan. Bagaimana agar tidak terlihat gagal di mata orang lain. Bagaimana agar tetap tampil seolah sukses. Dan pada akhirnya, kita semakin jauh dari kebebasan yang kita impikan.
Masalah ini bukan hanya tentang uang. Ini menyangkut kesehatan mental, arah hidup, dan hak atas kebebasan pribadi.
Karena jika kamu terus terjebak dalam pola ini, kamu akan selamanya menjadi sapi perah, tanpa pernah sadar bahwa kamu sedang diperah.
Tarik napas sebentar, karena apa yang akan kami sampaikan mungkin sedikit menohok.
Kelas menengah itu seperti zona nyaman yang penuh jebakan. Kita diberi cukup untuk hidup dengan layak, agar merasa aman, tapi tidak pernah cukup untuk benar-benar bebas. Seperti diberi umpan, tapi tali pengendali tetap dipegang oleh pihak lain.
Uang kita terus mengalir, tapi arahnya ke mana?
