Dengan trik ini, top speed bisa meningkat dan akselerasi terasa lebih kuat. Jadi, tidak asal gas saja, ada tekniknya agar performa benar-benar maksimal.
Bagaimana dengan konsumsi bahan bakarnya?
Motor ini memang terasa menyenangkan digunakan karena akselerasinya responsif. Namun, apakah boros?
Jawabannya tidak terlalu irit, tetapi juga tidak boros secara ekstrem. Jika dibandingkan dengan kompetitornya seperti Honda PCX atau Vario, konsumsi bahan bakarnya memang sedikit lebih tinggi.
Baca Juga:5 Sepeda Listrik Harga Rp2 Jutaan Terbaik 2025, Irit Plus Ramah LingkunganFakta Kenapa Yamaha Sulit Kalahkan Honda di Indonesia Meski Lebih Inovatif
Dalam mode berkendara “T” (mode santai), konsumsi bahan bakar rata-rata yang kami dapatkan sekitar 139 km/liter saat digunakan harian di Jakarta, dengan kondisi lalu lintas macet maupun saat jalanan kosong dan dipacu. Motor ini menggunakan bensin dengan RON 92, dan performanya tetap stabil, baik dipacu maupun dikendarai santai.
Dengan kapasitas tangki 5,5 liter, motor ini mampu menempuh jarak hingga 214 km dalam sekali pengisian penuh, cukup jauh, dan untungnya kapasitas tangki tergolong besar, jadi tidak perlu terlalu sering ke SPBU.
Jika menggunakan mode “S” (mode performa), konsumsi bahan bakarnya sedikit lebih tinggi, yaitu sekitar 135–136 km/liter. Namun hal itu sepadan dengan performa akselerasi yang jauh lebih agresif dan responsif.
Ternyata, sektor handling juga mendapat penyempurnaan. Bagian kaki-kaki dan rangka telah diperbarui untuk menyesuaikan dengan mesin yang kini lebih bertenaga.
Apa saja perubahannya?
Suspensi depan kini menggunakan ukuran as yang lebih besar, dari 26 mm menjadi 30 mm, seperti yang digunakan pada NMAX. Hasilnya, motor terasa lebih stabil.
Di bagian rangka tengah (center tunnel), kini terdapat pelat penghubung antara sasis depan dan belakang. Pelat tersebut lebih tebal dan jumlahnya lebih banyak, menghasilkan sasis yang lebih kaku.
Suspensi belakang dan depan kini juga lebih keras (spring rate ditingkatkan), sehingga membuat motor lebih stabil dan presisi saat bermanuver.
Baca Juga:5 Motor Suzuki yang Sebaiknya Tidak Dibeli di Tahun 2025Ke Mana Jagung Turbo Sekarang? Pernah Berjaya Kini Tinggal Kenangan
Efeknya, motor jadi terasa lebih stiff dan ringan saat bermanuver. Gerakan setir lebih presisi, tidak goyang-goyang. Cocok untuk pengendara yang suka melibas tikungan atau berkendara agresif.
Namun, di jalan rusak, suspensinya terasa agak keras, terutama bagian belakang. Meski begitu, saat berboncengan justru terasa lebih empuk. Saat digunakan sendiri di jalan yang bergelombang atau rusak cukup parah, memang terasa sedikit menghantam pinggang. Tapi sebagai gantinya, saat melintasi jalan yang hanya gelombang ringan seperti paving block, motor tidak terlalu mengayun dan masih nyaman untuk penggunaan harian.
