Review Lengkap Yamaha Aerox Alpha Turbo Peraih Gelar Motor Terbaik 2025

Yamaha Aerox Alpha Turbo
Yamaha Aerox Alpha Turbo
0 Komentar

  • Tensioner rantai keteng hidrolik
  • Mirror cylinder block (permukaan lebih halus untuk mengurangi gesekan)
  • Magnet lebih kecil (mengurangi beban mesin)
  • Mesin ini menghasilkan tenaga 15,2 HP dan torsi 14,2 Nm, menjadikannya sangat cocok untuk penggunaan harian.

Yang membedakan Aerox Alpha Turbo adalah penggunaan transmisi Yamaha Electric CVT (YECVT), yakni transmisi elektronik yang mengatur puli depan tanpa mekanisme sentrifugal konvensional. Teknologi ini diatur oleh Transmission Control Unit (TCU) sehingga menghasilkan akselerasi yang lebih responsif.

Dua Mode Berkendara Sport dan Town

Aerox Alpha Turbo dilengkapi dua mode berkendara:

  • S (Sport) memberikan respon mesin lebih agresif, cocok untuk akselerasi cepat
  • T (Town) lebih halus dan irit bahan bakar, cocok untuk perjalanan dalam kota

Perbedaan utamanya terdapat pada respon throttle dan RPM. Mode Sport akan menahan RPM lebih tinggi agar siap untuk akselerasi, sementara mode Town membuat motor terasa lebih tenang dan efisien.

Baca Juga:5 Sepeda Listrik Harga Rp2 Jutaan Terbaik 2025, Irit Plus Ramah LingkunganFakta Kenapa Yamaha Sulit Kalahkan Honda di Indonesia Meski Lebih Inovatif

Untuk mengganti mode, cukup tekan tombol di stang bagian depan, mirip seperti tombol lampu jauh.Fitur W-Shifter Pengalaman Berkendara Seperti Mobil Matic

Salah satu fitur paling menarik dari Aerox Alpha Turbo adalah W-Shifter, fitur pengatur rasio transmisi secara manual layaknya mobil otomatis. Anda bisa menurunkan rasio transmisi untuk mendapatkan torsi maksimal saat tanjakan atau akselerasi tinggi. W-Shifter memiliki tiga level

  • Low
  • Medium
  • High (RPM ditahan lebih tinggi untuk akselerasi maksimal)

Untuk mengganti level W-Shifter, gunakan tombol di stang kiri. Namun, untuk penggunaan harian, fitur ini jarang digunakan karena sistem YECVT-nya sendiri sudah sangat responsif.

Ketika throttle dibuka secara agresif, sistem akan otomatis menyesuaikan rasio transmisi untuk memberikan akselerasi optimal, lalu kembali ke posisi normal saat kecepatan stabil.

Kita tidak perlu mengaktifkan fitur ini secara manual karena sudah otomatis, basic-nya langsung aktif. Kemudian, ada perbedaan yang terasa pada putaran mesin sekitar 4.000 hingga 6.000 RPM. Pada versi standar dengan transmisi biasa, ketika RPM naik tajam, ada sedikit jeda atau penahanan sebelum mencapai 6.000 RPM. Setelah itu, saat variable valve timing aktif, barulah tenaganya terasa kembali melonjak.

0 Komentar