Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan oleh Creador, sebuah perusahaan private equity asal Malaysia yang memang fokus berinvestasi di kawasan Asia Tenggara.
Apa Itu Private Equity?
Bagi yang belum familiar, private equity bisa dibayangkan seperti ini: sekelompok investor kaya atau perusahaan besar mengumpulkan dana bersama untuk membeli perusahaan yang sedang mengalami kesulitan atau membutuhkan suntikan modal. Setelah dibeli, mereka membantu memperbaiki kondisi perusahaan tersebut, mulai dari sistem kerja, manajemen, hingga strategi pemasaran.
Tujuannya adalah agar nilai perusahaan meningkat. Ketika bisnis sudah berkembang dan lebih sehat secara finansial, perusahaan tersebut dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Jadi, bisa dibilang private equity adalah semacam “penyulap bisnis”: membeli perusahaan yang kurang optimal, memperbaikinya, lalu menjual kembali untuk memperoleh keuntungan.
Baca Juga:Mengungkap Penipuan Aplikasi 68EA Terbukti Scam Berkedok Investasi KriptoPanduan Lengkap Cek Air Radiator Tanpa Buka Tutup Radiator
Strategi Creador di Balik Akuisisi Simba
Creador melihat potensi besar dalam pasar sereal dan makanan ringan di Indonesia, terutama karena konsumsi sereal per kapita di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Dengan mengakuisisi PT Simba Indo Snack Makmur, Creador berharap bisa mengembangkan bisnis ini melalui perluasan distribusi dan peluncuran produk-produk baru. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, perhatian terhadap produk seperti Jagung Turbo tampaknya mulai terpinggirkan, mungkin karena fokus utama perusahaan beralih ke segmen yang lebih menjanjikan secara komersial.
Setelah hampir satu dekade mengelola PT Simba Indo Snack Makmur, pada tahun 2021, perusahaan private equity Creador resmi menjual seluruh sahamnya kepada Combiphar, sebuah perusahaan kesehatan konsumen asal Indonesia. Akuisisi ini dilakukan dengan nilai lebih dari Rp600 miliar untuk menguasai 100% saham PT Simba Indo Snack Makmur.
Langkah ini sejalan dengan strategi Combiphar untuk memperluas portofolio produk ke sektor makanan bernutrisi serta memperkuat posisinya di pasar kesehatan konsumen.
Akuisisi terhadap Simba dilakukan karena Combiphar melihat peluang untuk masuk ke pasar makanan sehat dan bernutrisi, terutama melalui merek-merek yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Mereka mulai mengarahkan fokus pada produk yang lebih sehat, seperti sereal dan makanan anak-anak, yang dapat dipasarkan di jaringan supermarket besar.
