Sorot Tajam Kebijakan Penambahan 50 Rombel Siswa, Pakar Pendidikan Khawatir Penurunan Kualitas Belajar

Pelajar menampilkan demo ekstrakurikuler kabaret saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Lapangan SMA Negeri 19, Jalan Ir. H. Juanda Dago Pojok, Kota Bandung, Kamis (17/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Pelajar menampilkan demo ekstrakurikuler kabaret saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Lapangan SMA Negeri 19, Jalan Ir. H. Juanda Dago Pojok, Kota Bandung, Kamis (17/7). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penambahan satu rombongan belajar (rombel) maksimal berisi 50 siswa untuk SMK/SMA Negeri di Jawa Barat, dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas belajar mengajar peserta didik.

Pakar Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Cecep Darmawan, menyebutkan bahwa kemungkinan terjadinya ‘learning lost’ bakal lebih tinggi. Hal ini diakibatkan ruang kelas yang terlalu berisi banyak siswa.

“Saya khawatir terlalu banyak siswa bakal tidak ideal dan banyak terganggu. Bakal terjadi learning lost,” sebut Cecep saat dikonfirmasi Jabar Ekspres, Kamis (17/7).

Baca Juga:Terkesan Aksi Cole Palmer, Real Madrid Siapkan ‘Versi Lokal dari AkademiPSSI Desak Operator Liga Izinkan Hanya 7 Pemain Asing di Lapangan

Dia menuturkan, dampak dari kehilangan kualitas belajar yang baik itu bakal berbuntut panjang. Diantaranya pemahaman materi pembelajaran siswa bakal kian lemah, serta pencapaian belajar yang ikut terkendala akibat terlalu banyak siswa.

“Salah satu dampak learning lost. Walaupun siswa naik kelas, bakal terseret-seret (kesulitan belajar, red),” tuturnya.

Hal penting menyoal pendidikan, kata Guru Besar UPI tersebut, yakni akses pendidikan harus disertai dengan kualitas yang tidak kalah memadai dari pemerintah. Kebijakan pun saat ini dinilai tergesa-gesa.

“Memang harusnya pemerintah mempunyai perencanaan matang. Kebijakan jangan sekonyong-konyong. Harus jauh-jauh hari, kalau mau 50 siswa harus mempunyai ruang memadai. Itupun harus sekolah yang memadai,” tegasnya.

“Banyak keluhan juga di lapangan nanti bakal jadi masalah. Karena belajar di sekolah itu harus ada standarnya. Di luar negeri itu lebih kurang dari 30-an. Jadi harus banyak perhatian pemerintah. Daripada menambah rombel, mending kelas pararel,” pungkasnya.

0 Komentar