Ini Alasan Kenapa Sound Horeg Haram Menurut MUI

Ini Alasan Kenapa Sound Horeg Haram Menurut MUI
Ini Alasan Kenapa Sound Horeg Haram Menurut MUI
0 Komentar

Berbeda dengan kesenian kalangan priyayi seperti tarian keraton yang halus dan elegan, kesenian rakyat petani seperti jatilan dan bantengan cenderung lebih ekspresif, enerjik, dan penuh semangat.

Sound horeg dianggap sebagai kelanjutan dari gaya berekspresi masyarakat bawah yang tidak segan-segan menunjukkan emosi dan semangat melalui suara yang lantang.

“Sound horeg ini bisa dilihat sebagai simbol ekspresi rakyat biasa yang selama ini memiliki budaya yang berbeda dari kelas priyayi,” tambah Nindyo.

3. Hiburan Murah Meriah

Baca Juga:Solidaritas yang Salah Sasaran, Ekonom: Berpotensi Merusak Ekonomi NasionalTelkom Gandeng IBM Indonesia dan F5 Networks Kenalkan Pentingnya AI dan Cybersecurity bagi Generasi Muda

Daya tarik sound horeg juga terletak pada sisi ekonominya. Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat kelas menengah ke bawah bisa mendapatkan hiburan yang ramai dan meriah.

Bagi mereka, sound horeg adalah alternatif hiburan publik yang mudah diakses tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

“Ini adalah produk budaya yang lahir dari kombinasi faktor ekonomi dan sosial. Dan selama masih ada peminat, budaya ini akan tetap bertahan,” terang Nindyo.

Meski begitu, Nindyo memprediksi bahwa usia budaya sound horeg mungkin tidak panjang, terutama jika konflik sosial terkait kebisingan semakin tajam.

Menurutnya, kelangsungan budaya sangat bergantung pada dukungan publik.

Jika penolakan dari masyarakat urban, aparat, dan tokoh agama semakin menguat, maka eksistensi sound horeg bisa perlahan menghilang.

“Produk budaya akan terus lestari jika dukungan terhadapnya lebih besar daripada penolakan. Jika sebaliknya, ia akan hilang dengan sendirinya,” tutupnya.

0 Komentar