Harapan tersebut terus hidup karena dua alasan utama. Pertama, adanya ketidaksukaan terhadap dominasi politik yang dianggap terpusat pada kelompok Muslim Jawa di Jakarta. Kedua, persepsi bahwa Israel, bersama sekutunya, Amerika Serikat, berpotensi menjadi sponsor perjuangan mereka. Tidak jarang, bendera Israel terlihat dalam demonstrasi kelompok separatis. Kedekatan ini bukan karena kesamaan ideologi, melainkan lebih kepada strategi politis: musuh dari musuhku adalah temanku.
Dalam konteks ini, Israel diposisikan sebagai negara kecil yang kuat, tangguh, dan tidak tunduk pada tekanan dari dunia Muslim. Citra tersebut menjadi simbol yang ingin ditiru oleh kelompok-kelompok yang merasa tertindas.
Wilayah Indonesia timur, khususnya Papua, merupakan salah satu kawasan dengan kehadiran militer tertinggi di Indonesia. Daerah ini tergolong rawan konflik dan dijaga ketat oleh aparat TNI. Ironisnya, keberadaan militer sering kali justru memperkuat narasi bahwa masyarakat Kristen di sana adalah korban dari sistem nasional yang dikuasai oleh kelompok mayoritas Muslim.
Baca Juga:2 Resep Es Kopi Enak dan Murah Bahan Kurang Dari Rp10.000 Andalan Anak Kos10 Game Android Offline Terbaik 2025, Seru Tanpa Koneksi Internet
Dari sudut pandang ini, simpati terhadap Israel tumbuh sebagai bentuk pelarian psikologis. Bagi mereka, bangsa Yahudi memiliki kesamaan nasib, seperti dikepung oleh musuh-musuh, namun tetap bertahan, tetap kuat, dan terus mendapat dukungan dari dunia internasional.
Teologi semacam ini kemudian diperkuat oleh para pemimpin rohani setempat, yang membingkai situasi politik lokal melalui kacamata spiritual global. Dengan demikian, dukungan terhadap Israel di Indonesia bagian timur bukan hanya berbasis pada faktor keagamaan atau pengaruh luar, melainkan juga pada dinamika sosial-politik dalam negeri yang rumit dan penuh luka sejarah.
Seperti halnya Israel yang terus dikejar oleh bangsa-bangsa kafir, demikian pula umat Kristen di wilayah timur Indonesia merasa dikejar oleh sistem dunia yang dianggap menindas. Ini bukan sekadar metafora, melainkan telah menjadi identitas perlawanan yang dikemas dalam bentuk khotbah. Banyak gereja evangelis dan karismatik di Indonesia bagian timur memiliki jaringan langsung dengan gereja-gereja di luar negeri, khususnya dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Tidak sedikit dari gereja-gereja ini yang menjadi bagian dari jaringan global Kristen Zionis, yaitu sebuah gerakan besar yang meyakini bahwa berdirinya negara Israel merupakan bagian dari nubuat akhir zaman. Beberapa pendeta lokal bahkan secara rutin diundang ke Israel untuk mengikuti pelatihan atau melakukan ziarah rohani. Sepulangnya, mereka tidak hanya membawa pengalaman spiritual, tetapi juga oleh-oleh ideologis: bahwa mendukung Israel adalah bagian dari perintah Tuhan.
