“Itu semua butuh biaya. Akan ada pos anggaran yang harus digelontorkan hanya untuk hal simbolik, di tengah keterbatasan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) serta banyaknya program layanan dasar yang belum optimal,” jelasnya.
“Itu bisa dianggap pemborosan, dan melenceng dari semangat efisiensi yang digaungkan oleh Kang Dedi. Belum lagi Pemprov Jabar punya utang ke BPJS hingga Rp300 miliar,” lanjut Maulana.
Sebagai solusi, Legislator muda Fraksi PKB itu mengusulkan, agar kata Welas Asih tidak dijadikan nama rumah sakit, melainkan cukup sebagai jargon atau nilai pelayanan yang mengandung kearifan lokal Sunda.
Baca Juga:Bandung Resmi Punya 2 Klub di Liga 1, Tapi Persib Terusir dari Sidolig!Ambisi Inter Miami Perpanjang Kontrak Messi
Menurut Maualana, hal itu dinilai lebih tepat dan tetap dapat mengangkat budaya tanpa harus membebani anggaran serta birokrasi.
“Welas Asih sangat bagus maknanya, penuh nilai empati. Tapi lebih baik itu dijadikan jargon sebutan atas semangat pelayanan, bukan mengganti nama yang sudah mapan dan dikenal luas oleh masyarakat,” ucapnya.
Maulana mengingatkan, perubahan nama institusi publik sebaiknya dikaji matang, melibatkan berbagai pihak termasuk tenaga medis, masyarakat pengguna layanan, hingga memperhatikan dampak jangka panjang.
“Kami di Komisi V siap berdialog dan memberikan masukan. Tapi yang kami dorong sekarang adalah pembenahan layanan dasar yang lebih urgent,” imbuhnya.
“Jangan sampai perhatian publik teralihkan oleh hal yang tidak menyentuh akar masalah,” pungkas Maulana. (Bas)
