Iran Desak PBB Akui AS dan Israel sebagai Pemicu Agresi dan Tuntut Kompensasi

Iran Desak PBB Akui AS dan Israel sebagai Pemicu Agresi dan Tuntut Kompensasi
Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran (SUMBER FOTO: Instagram/araghchi)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan permintaan resmi kepada Dewan Keamanan PBB agar Amerika Serikat dan Israel diakui sebagai pihak yang memicu tindakan agresi terhadap Iran. Ia juga menuntut agar kedua negara tersebut diminta bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan, termasuk memberikan kompensasi dan reparasi.

Permintaan tersebut disampaikan Araghchi dalam sebuah surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, seperti dikutip oleh Kantor Berita Rusia, Ria Novosti, pada Senin.

Dalam surat yang juga diunggah melalui kanal Telegram resminya, Araghchi menegaskan bahwa Israel dan AS harus dimintai pertanggungjawaban atas aksi agresi dan dicegah untuk mengulangi tindakan serupa di masa mendatang.

Baca Juga:Harga Dolar AS ke Rupiah Hari Ini, 30 Juni 20254 Tablet untuk Menggambar, Cocok Untuk Ilustrator Digital

“Kami secara resmi meminta agar Dewan Keamanan untuk mengakui rezim Israel dan Amerika Serikat sebagai inisiator tindakan agresi dan mengakui tanggung jawab mereka, termasuk pembayaran kompensasi dan reparasi,” bunyi surat tersebut sebagaimana dikutip dari kanal resmi Telegram milik sang menteri.

Insiden ini bermula pada malam 13 Juni, ketika Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tuduhan bahwa negara tersebut tengah mengembangkan program nuklir rahasia untuk tujuan militer. Serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas penting seperti instalasi nuklir, tokoh militer, fisikawan nuklir terkemuka, serta pangkalan udara Iran.

Iran menampik tuduhan tersebut dan merespons dengan serangan militer. Konflik meningkat selama 12 hari, dengan Amerika Serikat turut melakukan satu serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada malam 22 Juni.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Al Udeid, Qatar, pada malam 23 Juni. Namun, Iran menegaskan bahwa langkah itu tidak dimaksudkan untuk meningkatkan ketegangan lebih lanjut.

Presiden AS saat itu, Donald Trump, menyambut serangan Iran tersebut sebagai “pelampiasan” dan menyatakan bahwa peluang menuju perdamaian di Timur Tengah kini terbuka. Ia juga mengungkapkan bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata, yang akan berlaku resmi 24 jam kemudian dan mengakhiri konflik selama 12 hari.

0 Komentar