Fakta Mengejutkan di Balik Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Janji 19 Juta Lapangan Kerja
Janji 19 Juta Lapangan Kerja
0 Komentar

Satu hal yang tidak pernah dijelaskan secara terbuka ketika janji penciptaan 19 juta lapangan kerja diumbar ke publik adalah kenyataan bahwa arah perkembangan industri saat ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Banyak sektor justru tengah memperkecil jumlah tenaga kerja karena terdorong untuk menjadi lebih efisien melalui digitalisasi dan otomatisasi.

Ini bukan ancaman masa depan, hal ini sudah terjadi sekarang, dan dampaknya langsung terasa, terutama di sektor manufaktur. Pabrik-pabrik besar mulai mengurangi jumlah pekerja manusia, mesin produksi semakin canggih, proses semakin otomatis, dan kebutuhan terhadap tenaga kerja di lini produksi semakin kecil.

Di sektor logistik dan pergudangan, sistem manajemen berbasis kecerdasan buatan (AI) dan teknologi robotik mulai menggantikan fungsi-fungsi yang sebelumnya dilakukan secara manual. Pertumbuhan e-commerce juga mendorong model bisnis yang berbasis teknologi tinggi dan minim intervensi manusia. Bahkan di sektor jasa, penggunaan chatbot, sistem kasir otomatis, dan layanan digital mulai menggantikan peran tenaga kerja konvensional.

Baca Juga:5 Kamera Vlog Terbaik 2025 Kualitas Profesional, Harga TerjangkauPolemik Pernyataan Fadli Zon soal Pemerkosaan Massal Mei 1998 Adalah Palsu

Masalahnya, janji menciptakan 19 lapangan kerja tidak pernah menyentuh realitas ini. Seolah-olah seluruh sektor ekonomi akan berkembang dan menyerap tenaga kerja secara linear. Padahal kenyataannya, banyak industri besar kini justru bergerak menuju efisiensi tenaga kerja: semakin tinggi teknologinya, semakin kecil kebutuhan akan pekerjanya.

Ini adalah logika yang telah lama berlaku di tingkat global, dan kini mulai diadopsi secara masif di Indonesia. Namun, pemerintah tidak pernah secara jujur menyampaikan bahwa transisi digital ini berpotensi menciptakan lebih sedikit lapangan kerja daripada jumlah yang akan hilang.

Narasi yang disampaikan kepada publik tetap bernada positif: transformasi digital akan membuka peluang kerja baru. Namun, tidak pernah dijelaskan secara konkret pekerjaan seperti apa yang akan muncul, di sektor mana, dan membutuhkan kompetensi setinggi apa.

Yang tidak diperlihatkan kepada publik adalah kenyataan bahwa jumlah lowongan kerja baru tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah posisi yang digantikan oleh mesin atau sistem otomatis. Dan ini menjadi masalah besar, karena mayoritas tenaga kerja di Indonesia belum siap memasuki sektor kerja digital yang membutuhkan keterampilan tinggi.

0 Komentar