JABAR EKSPRES – Sejumlah hotel bintang 3 menyambut baik rencana Wali Kota Bandung M Farhan yang membuka keran rapat di hotel. Itu menjadi angin segar industri perhotelan.
Salah satunya Ibis Bandung Trans Studio. Marketing Communication Ibis Bandung Trans Studio Vitri Oktavia mengungkapkan, hal itu tentu menjadi angin segar yang cukup lama dinanti industri perhotelan.
“Kami sambut dengan pintu terbuka. Ini jadi angin segar bagi kami,” jelasnya.
Baca Juga:Perluasan Wilayah Cimahi Menguat, Gubernur Jabar Siap Duduk Bareng Kepala DaerahPengamat Politik Baca Sentilan Wagub Jabar ke Sekda Bentuk Perang Terbuka
Vitri melanjutkan, selama kebijakan efisiensi anggaran yang diluncurkan sekitar awal tahun lalu, hotelnya cukup ikut terdampak.
“Kerasa banget. Kami sampa revisi budget. Karena terdampak banget pada kondisi kuartal ke 1,” bebernya.
Salah satu dampak nyata dari efisiensi anggaran itu adalah pada karyawan hotel.
Sebelum ada efisiensi, Ibis banyak memperkerjakan karyawan casual atau daily worker.
Buntut dari efisiensi itu, karyawan-karyawan tersebut terpaksa dirumahkan.
“Saat ini kami mengandalkan staf yang ada. Bahkan staf itu dirolling untuk bantu departemen lain. Misal sales, itu bantu housekeeping,” cetusnya.
Menurutnya, kebijakan itu terpaksa dilakukan, karena menyesuaikan dengan pendapatan dan operasional hotel.
Karena itu Vitri berharap agar langkah yang akan dilakukan Pemkot Bandung itu benar benar terealisasi.
Baca Juga:Tarik Investor China, Kabupaten-Kota di Jateng Diminta Siapkan Konsep Sister CityGaungkan Isu Pelestarian Tanah, Dedie Rachim Dukung Kampanye Save Soil di Kota Bogor
Namun ia juga menggaris bawahi. Kebijakan itu bakal menantang. “Karena hotel – hotel lain juga bakal berebut segmen itu,” katanya.
Vitri mengakui rapat hotel atau sektor MICE sejauh ini cukup jadi andalan industri perhotelan. “Kalau di kami itu bisa 70 sampai 80 persen. Baru sisanya dari wisatawan atau keluarga yang menginap,” cetusnya.
Rapat hotel biasanya mengisi okupansi di weekday, sementara wisatawan andalan di weekend. Saat ini untuk pasar wisatawan juga ada persaingan baru, yakni menjamurnya hotel hotel baru yang cukup membuat kepo masyarakat.
Vitri menegaskan, industri perhotelan sebenarnya juga ikut berperan dalam siklus ekonomi UMKM, misalnya di Ibis, menu sarapan pagi tamu sedikit banyak juga diambil dari UMKM Bandung.
Hotel juga menyediakan tempat khusus di area loby untuk memasarkan aneka produk UMKM.
“Kalau rapat misalnya, menu coffe break juga sebagian produk UMKM,” cetusnya.
