4a dan 3b.
Untuk mendukung efektivitas tempur, Harimau APC kompatibel dengan
sistem persenjataan RCWS kaliber 12,7 mm, serta dilengkapi dengan automatic fire
suppression, laser warning system dan gun fire detection.
Selain penampilan dari Harimau APC (Armoured Personnel Carrier), PT Pindad akan
membawa kendaraan kendaraan tangguh dan keren untuk spot foto pengunjung pada
saat public day seperti, Anoa 2 6×6, Badak 6×6, Komodo 4×4 Missile Launcher,
Harimau Medium Tank, Maung MV3 Mobile Jammer, dan Pandur 8×8.
Pada kesempatan kali ini PT Pindad akan memperkenalkan dan meresmikan kendaraan
operasional 4×4 elektrik, bernama Pandu. Kendaraan ini ditujukan untuk menunjang
operasional TNI dengan kemampuan taktis yang bersumber tenaga listrik (BEV – NMC
battery). Menggunakan motor listrik bertipe 3 in 1 Permanent Magnet Synchronous
Motor, Pandu mampu melaju pada kecepatan aman 100 km/jam dan memiliki jarak
tempuh hingga 400 km.
Baca Juga:Tampil Gahar di INDO DEFENCE 2024, Motor Listrik Sprint Langsung Jadi PrimadonaKemandirian Pertahanan Bukan Sekadar Wacana, Len Raih Sertifikat Komponen Pendukung dari Kementerian Pertahanan
Dalam kesempatan yang sama, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga akan menampilkan live
demo untuk produk unggulan nya. PTDI sendiri memiliki sejarah panjang dalam
pengembangan roket dan telah memiliki lisensi resmi dari Thales Belgium.
PTDI telah berhasil mengintegrasikan roket 70 mm ke berbagai platform udara milik TNI
Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut, baik rotary wing
maupun fixed wing. Beberapa platform yang telah teruji kompatibel dengan roket ini
meliputi helikopter AS555 Fennec, BO105, Bell series, NAS332 Superpuma, serta
pesawat F-16 dan Embraer Supertucano.
PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan lebih dari 43.000 unit roket FFAR
dan WAFAR 70 mm dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri mencapai sekitar 20%
hingga 40%, untuk kapasitas produksinya sendiri mampu mencapai 10.000 unit per
tahun. Sedangkan untuk warhead, PTDI telah berhasil memproduksi lebih dari 40.000
unit dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri mencapai 60% hingga 85%, yang
kapasitas produksinya mampu mencapai 5.000 unit per tahun.
UAV Wulung merupakan drone pengintai yang dikembangkan pada tahun 2014 oleh
PTDI, Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT) – saat ini BRIN, dan Badan
Penelitian & Pengembangan (Balitbang) Kemhan RI, yang telah melalui berbagai
rangkaian uji, baik ground test maupun flight test, hingga akhirnya memperoleh Type
