Kesimpulan
Kesimpulan kami secara pribadi, untuk desain, itu kembali ke selera masing-masing karena sifatnya subjektif. Namun secara pribadi, Kami kurang menyukai desain seperti ini karena terlalu mirip dengan iPhone dan banyak digunakan oleh ponsel entry-level lainnya, sehingga terlihat kurang memiliki ciri khas Advan.
Namun jika kita berbicara soal price-to-performance, di kelas harga Rp1 jutaan, spesifikasi seperti Helio G100, RAM 8 GB, penyimpanan 128 GB, layar 120Hz, serta desain punch-hole (meskipun bezel-nya agak tebal) masih tergolong sangat layak. Menurut Kami, ini adalah langkah awal yang cukup tepat dari Advan setelah sebelumnya merilis Advan NASA Pro. Kita dukung saja brand lokal.
Jika kalian tertarik dengan produknya, silakan dibeli. Jika tidak, ya tidak masalah juga. Yang jelas, kini Transsion tidak lagi sendirian di segmen harga Rp1 jutaan. Sebelumnya kita hanya mengenal Itel dan Infinix seri Hot, serta kadang ada juga Redmi. Tecno pun punya seri seperti Tecno Spark yang bermain di kisaran harga Rp1,9 juta.
Baca Juga:7 Rekomendasi Kopi Sachet Enak yang Bikin Produktif, Cocok untuk Semua KalanganMengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya
Kini, hadir pesaing baru dari brand lokal, Advan. Harapannya ke depan, Advan tidak hanya fokus pada pasar entry-level, tetapi juga merambah ke segmen mid-range, serta membangun ekosistem perangkat lunak yang terintegrasi—antara tablet, konsol, perangkat all-in-one, laptop, hingga smartphone. Dengan begitu, Advan tidak hanya berfokus pada penjualan perangkat keras saja.
Saat ini, Transsion Holdings pun telah memiliki sistem berbagi file berbasis perangkat lunak yang cukup andal. Semoga Advan bisa mengembangkan sistem serupa ke depannya.
