Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya

Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya
Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya
0 Komentar

  1. Kurang Peluang Karier

Pekerja migran yang memiliki sertifikasi internasional cenderung memilih negara tujuan yang menawarkan peluang pengembangan karier yang lebih baik. Sebagai contoh, program kerja sama antarpemerintah (government to government/G2G) dengan Korea Selatan menyediakan pelatihan bahasa dan keterampilan teknis yang memungkinkan para pekerja kembali ke Indonesia dengan pengalaman dan kompetensi yang berharga.

Sebaliknya, banyak pekerja di Malaysia mengalami stagnasi karena minimnya kesempatan untuk peningkatan keterampilan maupun pengembangan profesional.

  1. Citra Negatif dan Diskriminasi terhadap Pekerja

Citra Malaysia sebagai negara tujuan kerja turut terpengaruh oleh berbagai laporan mengenai diskriminasi terhadap pekerja migran Indonesia. Beberapa kasus pengusiran pekerja tanpa alasan yang jelas, serta perlakuan tidak manusiawi di sektor perkebunan kelapa sawit, telah mencoreng reputasi negara tersebut.

Baca Juga:Lebih Tipis dari Samsung! Inilah Infinix Hot 60 Pro Plus Harga Rp2 JutaanJangan Sembarang Hubungkan WhatsApp ke Aplikasi Penghasil Uang seperti Task All

Pada tahun 2021, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat sebanyak 1.200 kasus pelanggaran hak pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia, termasuk insiden deportasi massal akibat operasi rahasia imigrasi.

Sebaliknya, negara-negara seperti Taiwan dan Singapura dikenal memiliki sistem imigrasi yang lebih tertib dan bersahabat terhadap pekerja migran, sehingga para PMI merasa lebih dihargai, aman, dan terlindungi.

Destinasi Baru Pilihan Pekerja Indonesia

Hong Kong dan Taiwan kini menjadi tujuan utama bagi PRT dan pekerja di sektor manufaktur. Selain menawarkan gaji yang lebih tinggi, kedua wilayah ini juga memberikan kontrak kerja yang jelas serta perlindungan hukum yang kuat.

Pada tahun 2023, sekitar 60% PMI yang bekerja di Hong Kong adalah pekerja rumah tangga. Sementara itu, di Taiwan, 70% PMI bekerja di sektor manufaktur dan perawatan lanjut usia.

Program G2G dengan Jepang dan Korea Selatan menjadi daya tarik utama bagi pekerja terampil, terutama di bidang konstruksi, perikanan, dan teknologi. Jepang, dengan populasi yang menua, membutuhkan banyak tenaga kerja asing, khususnya di sektor perawatan kesehatan. Diperkirakan Jepang akan membutuhkan hingga 500.000 pekerja asing pada tahun 2030.

Korea Selatan juga menawarkan peluang kerja di sektor industri galangan kapal dan elektronik, yang menjadi daya tarik bagi pekerja migran Indonesia (PMI) dengan keterampilan teknis.

0 Komentar