Contoh nyata adalah BYD, produsen mobil listrik (EV) asal Cina yang kini menjadi merek EV terlaris di dunia. Jika mobil ini laris secara global, tentu kualitasnya pun diakui. Banyak ulasan menyebut bahwa BYD menawarkan mobil listrik berkualitas dengan harga yang relatif terjangkau.
Harga Jual Kembali
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, mengapa masyarakat Indonesia masih enggan membeli mobil buatan Cina? Jawaban klasik yang sering muncul adalah soal harga jual kembali. Di Indonesia, nilai jual kembali merupakan faktor yang sangat krusial. Tidak peduli berapa harga mobil saat baru dibeli, yang terpenting bagi banyak konsumen adalah harga jual kembali yang stabil dan menguntungkan.
Sayangnya, hingga saat ini, mobil Cina belum mampu memberikan jaminan nilai jual kembali yang baik. Sebagian besar mengalami penurunan harga yang cukup drastis. Sebagai contoh, Wuling Almaz tipe 1.5 CVT dijual baru seharga sekitar Rp343 juta untuk tahun produksi 2025. Namun, harga bekasnya untuk unit tahun 2023 sudah berada di kisaran Rp190 juta—dan itu pun masih bisa dinegosiasikan. Artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun, mobil ini mengalami depresiasi hampir Rp150 juta. Angka ini cukup besar dan menunjukkan bahwa nilai mobil turun drastis dalam waktu singkat.
Baca Juga:Tak Hanya Cantik, 8 Tanaman Hias Ini Bisa Saring Polusi dan Lindungi Keluarga AndaSaingan Infinix Note 50S? Ini Alasan Tecno Pova Curve 5G Layak Dibeli
Sebaliknya, mobil Jepang cenderung memiliki depresiasi yang lebih stabil. Sebagai perbandingan, Mitsubishi Xpander tipe GLS saat ini dijual dengan harga sekitar Rp279 juta, sementara harga bekasnya untuk unit tahun 2023 berada di kisaran Rp227 juta.
Depresiasinya hanya sekitar Rp50 juta, yang masih tergolong wajar untuk sebuah mobil satu tahun pemakaian. Kasus ini menunjukkan bahwa mobil Jepang masih menjadi pilihan utama banyak konsumen Indonesia karena nilai jualnya yang lebih terjaga.
Kecanggihan Teknologi
Selain soal harga jual, ada satu hal lain yang sering menjadi bahan pertimbangan masyarakat Indonesia—yakni keraguan terhadap kecanggihan teknologi. Banyak orang beranggapan bahwa semakin canggih teknologi sebuah mobil, maka akan semakin rentan terhadap kerusakan.
Memang benar, mobil Cina sangat menggoda dari sisi fitur. Dengan harga Rp250 juta hingga Rp300 juta, konsumen sudah bisa mendapatkan mobil yang dilengkapi sunroof, kamera 360 derajat, kursi elektrik, sistem bantuan pengemudi (ADAS), hingga fitur perintah suara (voice command). Fitur-fitur ini tentu sangat mengesankan dan seharusnya menjadi daya tarik yang kuat.
