JABAR EKSPRES – Setelah lebih dari satu dekade vakum, Pasar Seni ITB kembali menyapa publik dengan semangat baru. Sebagai pemanasan menuju festival utama nanti, panitia Pasar Seni ITB 2025 sukses menggelar pre-event bertajuk SINESTESIA: Merayakan Kembali pada 25 Mei 2025 di kawasan CAD ITB dan Galeri Soemardja.
Acara ini bukan sekadar peluncuran tema dan logo. Lebih dari itu, SINESTESIA menjadi titik temu antara kenangan masa lalu dan geliat seni masa kini. Dengan video mapping kolaboratif bersama Arafura, pengunjung diajak menyelami kembali esensi Pasar Seni sebagai perayaan seni yang hidup, reflektif, dan penuh interaksi.
“Kami ingin Sinestesia menjadi jembatan menuju Pasar Seni 2025–sebuah awal yang penuh makna,” ujar Kayla Davina, Ketua Panitia Pasar Seni ITB 2025, Senin (2/6/2025).
Baca Juga:Disini Kamu Bisa Dapat Saldo Dana Hingga Rp2 Juta Langsung ke Aplikasi DANATampil Luar Biasa, Pebalap Binaan Astra Honda Melesat di FIM JuniorGP Jerez
Jejak 50 Tahun dalam Arsip dan Artefak
Di Galeri Soemardja, pengunjung disuguhi pameran arsip dan artefak yang menggambarkan perjalanan Pasar Seni sejak pertama kali digelar pada 1972. Poster-poster jadul, dokumentasi visual, hingga potongan suasana dari masa ke masa dipamerkan untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif akan salah satu festival seni paling bergengsi di Indonesia.
Pre-event ini menjadi momen hangat bagi warga Bandung dan sekitarnya, sekaligus menjawab kerinduan masyarakat yang selama ini bertanya-tanya, “Kapan Pasar Seni kembali diadakan?”
Bangkit dengan Energi Baru dan Kolaborasi Luas
Setelah rencana penyelenggaraan tahun 2020 tertunda akibat pandemi Covid-19, tahun 2025 menjadi momentum yang tepat untuk kebangkitan. Dan bangkitnya bukan setengah hati. Pasar Seni ITB 2025 akan hadir dengan lebih dari 300 stan, 200 seniman dan komunitas, tiga panggung utama, dan berbagai wahana yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman tak terlupakan.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini Pasar Seni mengusung semangat kolaborasi lintas generasi dan disiplin. Tidak hanya mahasiswa dan dosen FSRD ITB, penyelenggaraan festival juga melibatkan alumni, komunitas lokal, hingga civitas akademika lintas jurusan.
“Saya sangat percaya ini akan menjadi momentum perubahan. Pasar Seni kini bukan hanya milik FSRD, tetapi milik kita semua, yakni mahasiswa, dosen, alumni, dan masyarakat,” kata Dr. Hendhy Nansha, M.Sn., M.H., Koordinator Kemahasiswaan Pasar Seni ITB.
